Murniati Agustian
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta
ABSTRACT
Indonesia has various ethnic groups and therefore cultures. These make Indonesia an exotic and attractive country. However, the cultural differences can also be potential sources of conflicts if they are not managed properly. We believe that multicultural education at primary schools may reduce these conflict potentials. This action research was aimed at developing a multicultural education model for junior highschool using audiovisual aids that can help students appreciate the uniqueness and diversity of peoples and cultures in Indonesia. The research was carried out in several stages: (1) need assessment of school principals, teachers, and students. According to them, multicultural education was necessary, students should be involved as peer educators, and Betawi culture should be introduced first. (2) learning material development: Films on Betawi culture and social relations among junior high school students, teachers’ and peer educators’ guides to using the films. At this stage, teachers were involved as script writers, and students as actors. (3) implementation: Teachers integrated the films into the subjects they taught, peer educators organized film viewings and discussions. (4) monitoring and evaluation: observation was used to monitor the implementation in the schools.
Several methods were used to evaluate the implementation of the model, namely, pre- and post-tests, FGDs with the teachers and students, and interviews with the school principals. Based on the evaluation, the learning materials were revised. This action research was carried out for 10 months, with 10 teachers, 16 students as peer educators, and 278 students participated in the implementation stage. Schools involved in this research: senior and junior high schools with different religious affiliations (Islam, Christianity, Catholicism, and Buddhism). Results: Most of the students (95%) have improved their knowledge in Betawi culture. All of them appreciated Betawi’s local wisdom. They (95%) were able to avoid negative inter-cultural attitudes. They all enjoyed studying using ICT. The films improved their receptiveness, and saved them from boredom. The teachers improved their teaching creativity, and school principals were inspired to develop audiovisual media. So, everybody in the schools changed.
Key word: education, multicultural, high school, learning materials, audiovisual media
PENDAHULUAN
Berbagai konflik yang berakhir dengan kekerasan sudah mencoreng wajah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bila dilakukan kilas balik sejak tahun 1998, kekerasan yang terjadi sungguh sangat mengerikan. Pada saat itu, hampir serentak di beberapa wilayah tanah air, terjadi pengrusakan dan pembakaran massal. Tahun 1998 konflik antar agama mulai pecah, dimulai dari Poso lalu Ambon tahun 1999. Konflik di kedua daerah ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, yaitu peperangan antara dua saudara yang berbeda agama, orang Kristen membunuh orang Muslim dan orang Muslim membunuh orang Kristen (Suseno:2000). Anak-anak korban konflik mengalami trauma, mereka terpaksa mengungsi dan menyesali mengapa perang saudara terjadi di kampung halaman mereka (Soetomo: 2001). Begitu juga dengan teror-teror bom yang dilakukan di Bali pada bulan Oktober 2002, di beberapa tempat di Jakarta dengan dalih agama (Gerung: 2006).
Konflik dan kekerasan juga dilakukan oleh anak-anak yang dikenal dengan bullying. Ditemukan kasus bullying di 70,65 persen di SMP dan SMU di Yogyakarta (Juwita, Kompas.com: Mei 2008). Kekerasan di sekolah bukan hanya oleh anak tetapi juga dilakukan oleh guru yang seharusnya memberi contoh yang baik.
Dari berbagai kasus di atas muncul pertanyaan mengapa konflik terjadi. Fisher dkk. (2000:3) mengatakan bahwa masyarakat memiliki perspektif atau pandangan yang berbeda tentang hidup dan masalah-masalahnya karena memiliki sejarah dan karakter yang unik, dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan, dilahirkan dalam suatu cara hidup tertentu dan memiliki nilai-nilai yang memandu pikiran dan perilaku dalam mengambil atau menolak tindakan tertentu.
Pendidikan multikultural dipandang dapat meminimalkan kekerasan karena nilai-nilai yang dikembangkan adalah menghargai (toleransi) perbedaan, bersikap solider (saling membantu), tidak berprasangka, tidak melakukan diskriminasi terhadap teman yang berbeda dengannya. Model yang dikembangkan mengintegrasikan pendidikan multikultural dengan mata pelajaran (bidang studi) dan menggunakan media audio visual. Media audio visual digunakan karena sangat efektif dalam merubah perilaku (Anderson: 1998). Hasil pengembangan model yang dilakukan peneliti dan tim pada tahun 2005-2006 terlihat bahwa ada peningkatan pemahaman dan afeksi anak tentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan.
Dari pembahasan di atas terlihat bahwa pendidikan multikultural sangat dibutuhkan dan terasa ada manfaatnya. Hanya saja penelitian untuk pengembangan model pada jenjang SMP dan SMA belum ada. Pertanyaannya adalah bagaimana mengembangankan model pendidikan multikulturalisme pada jenjang pendidikan menengah pertama? Apakah media audio visual menarik bagi anak-anak pada tingkatan SMP? Karena itu peneliti mengembangkan pendidikan multikultural di SMP dengan menggunakan media audio visual.
Secara umum, tujuan Penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengevaluasi model pendidikan multikultural di Sekolah Menengah Pertama agar siswa dapat menghargai perbedaan dan memiliki rasa bangga terhadap kearifan budaya lokal. Lebih khusus lagi, tujuannya adalah 1) menggali pandangan dan kebutuhan para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat SMP tentang penerapan pendidikan multikultural di tingkat sekolah menengah pertama di wilayah Jakarta; 2) merancang model pendidikan multikultural untuk tingkat SMP dengan media visual; 3) membentuk tim fasilitator di SMP (terdiri atas guru dan siswa) yang akan melaksanakan pendidikan multikultural dengan menggunakan media audio visual; 4) mengimplementasikan model pendidikan multikultural yang menggunakan media visual; 5) mengevaluasi hasil implementasi model pendidikan multikultural yang menggunakan media audio visual untuk perbaikan.
KERANGKA BERPIKIR
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. (Suparlan, 2002). Untuk mencapai hal tersebut sangat diperlukan sikap masyarakat yang memahami multikultural melalui pendidikan. Menurut Tilaar (2004), ada tiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multikultural yaitu: 1) berdasarkan pada kesetaraan yang mengakui hak azasi manusia, hak kelompok manusia, hak kelompok suku bangsa, hak kelompok bangsa untuk hidup berdasarkan kebudayaannya sendiri, 2) mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas. Dalam masyarakat pluralis seperti Indonesia dituntut manusia-manusia yang cerdas yang penuh dengan toleransi, 3) dapat mengantisipasi agar generasi muda tidak hanyut ke dalam globalisasi budaya Barat. Tilaar menekankan bahwa globalisasi memberikan banyak hal yang positif, tetapi disamping itu terdapat berbagai hal yang negative misalnya telah menimbulkan ketidakpastian dan kegamangan pada masyarakat di negara-negara berkembang serta mengubah struktur sosial dan kebudayaannya.
Ketiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multikultural tersebut dapat dikembangkan menjadi program-program pelaksanaannya melalui: lembaga-lembaga pendidikan sebagai pusat budaya, pendidikan kewargaan, kurikulum pendidikan multikultural, kebijakan perbukuan dan pendidikan guru. Bila dilihat tiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multicultural, media yang baik digunakan adalah media audio visual. Anderson mengatakan media audio visual sangat efektif dalam merubah perilaku (Anderson: 1998). Hasil penelitian Agustian (2006:2008) memperlihatkan bahwa siswa sangat menyukai belajar dengan media audio visual. Media audio visual mempunyai beberapa kelebihan yaitu, bergerak, merupakan suatu proses, dapat diobservasi, dapat didramatisir, baik untuk domain afektif, dan dapat untuk memecahkan masalah ( Heinich dkk.,1986).
METODOLOGI PENELITIAN
Pendidikan multikultural di-desain dengan mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam kurikulum dengan menggunakan media audio visual. Motor penggerak pendidikan multikultural adalah guru dan fasilitator sebaya. Guru akan memberikan di kelas sesuai dengan bidang studinya, sedangkan fasilitator sebaya sebagai motor penggerak diantara teman-temannya dengan acara yang dirancang bersama guru.
Penelitian awal dilakukan untuk melihat pandangan para pemangku kepentingan tentang pendidikan multicultural di SMP. Metode yang digunakan adalah focus group discussion (padanan Indonesia: diskusi kelompok terfokus) dengan guru dan siswa dan in-depthiInterview (padanan Indonesia: wawancara mendalam) dengan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan. Jumlah informan 26 orang dengan rincian: 5 kepala sekolah, 11 orang siswa SMP dan 10 Guru SMP yang berasal dari lima sekolah berbasis agama dan negri di Wilayah DKI
Berdasarkan hasil penelitian awal, bersama kepala sekolah menentukan 2 guru bidang studi yang akan terlibat. Bersama guru memilih 15 orang siswa yang akan menjadi fasilitator sebaya untuk masing-masing sekolah. Guru memilih pokok bahasan yang akan diintegrasikan ke dalam pendidikan multicultural serta membuat rancangan pembelajarannya. Guru dan siswa menentukan memilih sub-pokok bahasan yang akan dibuat media audio visual. Guru menulis skenario, Studio Teknologi Pendidikan Unika Atma Jaya memproduksi dengan melibatkan siswa sebagai pemain. Membuat panduan penggunaan video yang terintegrasi dengan bidang studi untuk guru dan fasilitator sebaya.
Guru dan fasilitator sebaya diberi pelatihan tentang pelaksanaan model pendidikan multikultural dengan menggunakan media audio visual. Guru dan fasilitator sebaya mengimplementasikan model sesuai dengan perencanaan. Sebelum kegiatan dilakukan, guru memberikan pretest dan posttest setelah diadakan kegiatan. Peneliti melakukan observasi implementasi dan diskusi dengan guru untuk perbaikan model.
Setelah implementasi, dilakukan evaluasi dengan cara FGD terhadap guru dan fasilitator sebaya. Wawancara dengan kepala sekolah untuk melihat keberlanjutan program. Berdasarkan itu dilakukan revisi. Penelitian ini dilakukan selama sepuluh bulan.
HASIL
Setelah diskusi dengan peneliti tentang pengertian multicultural, semua informan memandang bahwa pendidikan multicultural itu penting diberikan di tingkat SMP. Semua informan merasa butuh untuk mengimplementasikan pendidikan multicultural, Kepala sekolah antusias karena menggunakan media audio visual dan guru terlibat dalam penulisan naskah film. Bidang studi yang dapat diintegrasikan dengan pendidikan mutikultural adalah: IPS, sejarah, geografi, PPKN, dan agama.
Berdasarkan hasil penelitian pada tahap awal, dibuatlan desain pendidikan multicultural dengan menggunakan media audio visual. Untuk menghargai kearifan lokal, film yang dibuat tentang budaya Betawi: upacara perkawinan, makanan dan minuman, seni bela diri ”Beksi”, bentuk rumah, upacara pindah rumah, alat musik Tanjidor (musik tradisional Betawi). Untuk meningkatkan sikap multikultural dan menghindari sikap negatif, diangkat kasus bullying (penindasan) berdasarkan kisah nyata di salah satu sekolah.
Kelima sekolah telah mengimplementasikan model pembelajaran pendidikan multikultural, di bawah ini adalah tabel sekolah, kelas dan jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran.
Tabel 1. Sekolah, Kelas dan Jumlah Siswa yang Terlibat.
| No. | Sekolah | Kelas | Jumlah siswa | |
| Laki | Perempuan | |||
| 1 | PSKD 3 Jakarta Timur | VII : 17 siswa | 10 siswa | 7 siswa |
| 2 | PSKD 3 Jakarta Timur | IX : 14 siswa | 8 siswa | 6 siswa |
| 3 | PSKD 3 Jakarta Timur | VIII : 33 siswa | 12 siswa | 21 siswa |
| 4 | Darma Suci Jakarta Utara | IX : 23 siswa | 11 siswa | 12 siswa |
| 5 | Santa Theresia Jakarta Pusat | VII.2 : 35 siswa | 16 siswa | 19 siswa |
| 6 | Santa Theresia Jakarta Pusat | VII.3 : 25 siswa | 13 siswa | 12 siswa |
| 7 | MTsN 4 Jakarta Selatan | IX.6 : 30 siswa | 16 siswa | 14 siswa |
| 8 | MTsN 4 Jakarta Selatan | IX.4 : 33 siswa | 15 siswa | 18 siswa |
| 9 | SMPN 215 Jakarta Barat | VII-VIII-IX: 68 siswa | 34 siswa | 34 siswa |
| | Total yang terlibat | 11 kelas 278 | 135 | 143 |
Kegiatan yang dilakukan di kelas
Pembelajaran di kelas dimulai dengan pretest, setelah itu menyaksikan film bersama, kemudian guru memandu diskusi atau tanya jawab tentang isi dan nilai-nilai yang ada. Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan postes.
Kegiatan di luar kelas oleh guru dan fasilitator cilik.
Ada beberapa sekolah yang melakukan kegiatan di luar kelas, misalnya di MTSN mereka melakukan ‘permainan warna-warni’ yaitu setiap siswa diminta memilih warna yang paling disukai dan warna yang paling tidak disukai lalu mereka dimta menjelaskan mengapa mereka suka dan mengapa mereka tidak suka setelah itu mereka membuat karya seni dari kertas tersebut yang hasilnya bagus. Kegiatan ini dilakukan di Masjid sekolah karena jumlah pesertanya cukup banyak selain itu dapat memudahkan siswa untuk melakukan permainan warna.
Di SMP St. Theresia pendidikan multikultural dimasukkan ke dalam program sekolah yaitu ‘Pembinaan Pribadi’ dengan permainan mengenal lebih dalam tentang “saya dan teman saya”. Hasil gambaran diri siswa dikumpulkan untuk memberikan masukan bagi guru BP agar jika ada masalah personal siswa, akan segera ditindaklanjutinya.
Di SMP Dharma Suci program ini juga dimasukkan dalam kegiatan ekskul Bahasa Indonesia dan Karya Ilmiah Remaja (KIR) berupa debat ilmiah bertema „Multikultural“ dengan peserta wakil dari siswa kelas 7, 8, dan 9 yang dibagi dalam kelompok berdasarkan suku bangsa.
SMPN 215 membuat kegiatan “215 cinema”. Semua film produksi Studio Teknologi Pendidikan ditayangkan, sedangkan penontonnya adalah anak-anak yang bermasalah pada setiap kelas. Kriteria anak-anak yang dianggap bermasalah adalah “ngegeng yaitu anak-anak yang suka berkelompok/tidak membaur dengan siswa lain dan sering ngumpul di kantin , sering konflik dengan adik kelas”. Fasilitator memimpin diskusi berdasarkan buku pedoman yang dibuat.
Dari observasi di kelas terlihat guru dan murid sama-sama senang mengimplemetasi program ini. Dari keseriusan siswa menonton terlihat bahwa mereka betul-betul memperhatikan. Ada guru yang kreatif, untuk memulai pembelajaran beliau melakukan permainan terlebih dahulu. Kegiatan di luar kelas juga menyenangkan siswa, mereka menonton bersama, tertawa dan mendiskusikan sikap-sikap negatif yang tidak perlu ditiru. Terlihat bahwa penggunaan media harus diikuti dengan metode yang cocok untuk dipadukan.
EVALUASI
Prates dan postes
Dari hasil prates terlihat ada peningkatan pengetahuan siswa tentang budaya Betawi, seperti tabel di bawah ini:
Tabel 2. Pengetahuan Siswa SMP PSKD tentang Budaya Betawi
| Budaya Betawi | Prates | Postes |
| Pernikahan | 9% | 91% |
| Makanan dan minuman | 35% | 65% |
| Musik | 50% | 50% |
| Rumah adat | 7% | 93% |
| Silat Beksi | 45% | 55% |
Tabel 3. Pengetahuan Siswa SMP Dharma Suci tentang Budaya Betawi
| Budaya Betawi | Prates | Postes |
| Pernikahan | 16% | 84% |
| Makanan dan minuman | 22% | 78% |
| Musik | 30% | 70% |
| Rumah adat | 0% | 100% |
| Silat Beksi | 25% | 75% |
Tabel 4. Pengetahuan Siswa SMPN 215 tentang Budaya Betawi
| Budaya Betawi | Prates | Postes |
| Pernikahan | 3% | 97% |
| Makanan dan minuman | 17% | 83% |
| Musik | 7% | 93% |
| Rumah adat | 25% | 75% |
| Silat Beksi | 7% | 93% |
Tabel 5. Pengetahuan Siswa SMP Santa Theresia tentang Budaya Betawi
| Budaya Betawi | Prates | Postes |
| Pernikahan | 16% | 84% |
| Makanan dan minuman | 24% | 76% |
| Musik | 47% | 53% |
| Rumah adat | 8% | 92% |
| Silat Beksi | 20% | 80% |
Tabel 6. Pengetahuan Siswa MTsN 4 tentang Budaya Betawi
| Budaya Betawi | Prates | Postes |
| Pernikahan | 0% | 100% |
| Makanan dan minuman | 23%% | 77% |
| Musik | 40% | 60% |
| Rumah adat | 15% | 85% |
| Silat Beksi | 0% | 100% |
Selain itu siswa SMP ada yang sudah mengenal ondel-ondel, topeng Betawi, cerita si Pitung, lenong, bahasa/dialek, dan lagu. Mereka mengetahui dari TV, buku pelajaran PLKJ, orangtua, tetangga dan taman rekreasi Situ Babakan.
Pendapat siswa tentang budaya Betawi pada pretest cukup beragam, seperti menghibur, unik, sangat tradisional, bagus, Betawi itu budaya asli Jakarta. Ada sebagian siswa yang berpendapat bahwa bahasa Betawi itu kasar walaupun mereka menghormati orangtua. Hasil post test, tetap beragam tetapi lebih banyak mengatakan sangat menarik, sangat beragam, dan perlu dilestarikan. Tidak ada lagi siswa yang mengatakan bahwa suku Betawi kasar.
Perasaan hampir semua siswa tentang budaya Betawi pada prates adalah senang bisa mengenal budaya betawi. Pada postes jawaban lebih bervariasi, selain senang ada yang mengatakan kagum, bangga, mengesankan dan menyenangkan ada juga yang mengharuskan untuk dilestarikan dan dipelajari lebih dalam.
Pendapat siswa tentang belajar dengan media audio visual ada dua jawaban yaitu senang dan sangat senang. Alasan mereka sangat beragam seperti, lebih mudah dimengerti, mudah diingat, menyenangkan, menarik, bisa melihat langsung, lebih interaktif, mengasikan, lebih jelas daripada guru menjelaskan, tidak mudah jenuh, tidak membosankan, dan tidak mengantuk.
Tentang film “Haruskah” yang bercerita mengenai sikap negatif siswa dalam membicarakan kasus korupsi yang terjadi dan film “Pantaskah” yang memaparkan konflik kakak kelas dengan adik kelas karena ”cowok”, 99% siswa mengatakan bisa menghidari sikap negatif seperti dalam film tersebut. Caranya sangat bervariasi yaitu: menjauhi teman yang nakal, berfikir dan bersikap positif pada semua orang, jangan merasa benar sendiri, bedakan mana yang benar mana yang salah, jangan ditiru, saling menghormati, harus bisa menahan emosi, hormati yang tua sayangi yang muda, sabar, dan hargai perbedaan pendapat.
b. FGD/wawancara dengan guru
FGD/wawancara dengan guru: guru merasa terbantu dengan program ini terutama mengintegrasikan dan menanamkan nilai-nilai positif ke dalam bidang studi. Panduan yang dibuat menambah wawasan guru tentang pendidikan multikultural. Guru merasa ini perlu ditindaklanjuti terutama kepada guru2 lain di satu sekolah. Begitu juga kepada guru lain di sekolah yang lain. Panduan untuk siswa, ada guru yang mengusulkan agar bahasanya dipermudah.
Setelah mengimplementasikan guru merasa program ini bagus sekali karena melihat konflik yang terjadi di Negara kita dan program ini lebih kepada preventif karena diberikan kepada anak-anak yang akan dewasa.
Ya bagus sekali apalagi waktu kita memulai program ini kasus Tanjung Priok baru terjadi, kemarin terjadi lagi Bogor tentang pendirian gereja itu ada pertikaian-pertikaian mudah-mudahan dengan program ini bisa meminimalisir hal-hal seperti itu ke depannya, karena yang kita tekankan di sini bibit-bibit remaja sekarang dan akan beda bila kita berikan kepada bapak-bapak kita yang melakukan itu…he he memalukan sekali mendengarnya
Menurut guru, siswa sangat antusias melihat film “Haruskah” dan “Pantaskah”, dan topik tersebut mengena bagi siswa. Selain topik yang mengena, mereka juga senang karena ada teman mereka yang menjadi pemain dalam film itu. Seperti yang terungkap’“oh itu ada teman kita Bu. Hebatnya”. Mereka juga menyadari bahwa perilaku dalam film sama dengan perilaku siswa dalam keseharian mereka yang sebenarnya tidak pantas dilakukan, misalnya beberapa perilaku negatif saling mengejek, dan paham senioritas.
Guru menilai, para siswa juga sangat tertarik dengan adat-istiadat Betawi, pakaian serta makanan khas Betawi, bagi mereka hal ini sebagai pengetahuan baru tentang budaya Betawi. Misalnya dalam upacara pindah rumah, siswa tertarik ketika orang Betawi membawa tanah dari rumah lama dan ditaburkan di rumah baru. Dengan mereka belajar budaya Betawi mereka dapat bersosialisasi di lingkungan tempat tinggal yang kebetulan kebanyakan orang Betawi.
Guru juga melihat dampaknya terhadap anak-anak karena ada anak yang bertanya, “Bu, Bu jadi begitu ya perasaan orang kalau kita seperti yang dalam film itu”. Kasus-kasus memaki dan berkata kasar di jejaring sosial sering terjadi pada anak-anak usia SMP, itu hasil pengamatan guru-guru dan menjadi keprihatinan para guru juga.
Kendala dalam implementasinya adalah ruangan multimedia karena sekolah belum memilikinya. Sedangkan untuk program sendiri siswanya suka. Dalam mengintegrasikan program ini ke dalam bidang studi, ada guru yang tidak mengalami kesulitan karena rancangan pembelajaran sekarang mengharuskan ada pengembangan karakter bangsa dan program ini sangat banyak aspek karakter bangsanya banyak sekali.
“Sulit si enggak karena RPP yang sekarang ini mengharuskan adanya embel-embel karakter bangsa, dan program kita ini sangat banyak karakter bangsanya”
Untuk keberlanjutan program, ada guru yang berpendapat bahwa penanaman nilai multikultural dapat dilakukan melalui media komunikasi yang saat ini sedang diminati oleh siswa yaitu ’face book’ (FB). Guru dapat mengontrol dengan bergabung dalam media tersebut di mana siswa terhubung dengan FB. Seperti yang diungkapkan oleh guru,
Saya bisa pelajari status mereka setiap saat. Mereka itu apakah ada yang menghina teman kalau ada saya serahkan ke BK supaya dibina. Na, misalnya menghinanya itu ee, kata kotor anjing itu misalnya, rambutnya seperti si ini gitu kebetulan rambutnya Irian kayak gitu. Itu sudah mengenai suku dan ras. Kebetulan kita juga belajar tentang eee, budaya juga kan. Mau suku apa pun, mau budaya apa pun segi ekonominya bagaimana, kita harus menghargai.
Bila melibatkan atau mengajak guru lain untuk mengimplementasikan, ada guru yang merasa punya kendala karena merasa diri sebagai “yunior” dan takut bila rekan yang lain merasa digurui. Ada juga pemikiran diantara guru-guru bila ada teman yang ikut pelatihan atau program pengembangan dianggap “hanya untuk kamu” jadi guru lain tidak peduli.
“Aduh bu kan saya masih junior ntar teman-teman lain merasa digurui, tapi kalau bos yang mengatakan A pasti yang lain akan ikut A
c. FGD/wawancara dengan fasilitator sebaya
Menurut hasil FGD/wawancara dengan fasilitator sebaya: 1) ada beberapa kata yang ada dalam buku baru diketahui, 2) ada pertanyaan dari teman-teman kenapa hanya film budaya Betawi saja, budaya yang lain juga perlu. Fasilitator menjawab karena kita di Jakarta, jadi yang kita utamakan Budaya Betawi; 3) film bullying juga menarik, dan dapat merubah sikap siswa, mereka yang konflik dapat saling pandang, adik kelas juga tidak “nyolot lagi” (sengaja menantang) tampangnya.
“Budaya pedalaman kan kita juga perlu apa lagi budaya yang kita belum tahu jadi kita juga penasaran, apalagi pedalaman itu alamnya juga bagus”
“Film bullying juga heboh tuh, mereka yang duduk depan belakang dan saling lirik, kakak kelas masih jain, adik kelas sudah tidak nyolot lagi”
Kesan fasilitator cilik tentang program ini adalah: sangat mengesankan, menambah pengetahuan dan banyak teman dari berbagai sekolah, dapat menghargai perbedaan.
Jujur secara pribadi seru, menambah pengetahuan, menjadi akrab dengan teman-teman yang baru kenal, sampai sekarang kita masih kontek-kontekan, dapat ilmunya lebih banyak dan bermanfaat misalnya kita bisa menghargai perbedaan, menghargai orang lain, intinya saya senang.
Bener seru, banyak teman, kalau bisa berlanjut lagi sampai ke SMA supaya teman-teman di SMA juga tahu, kalau mungkin nanti aku juga mau menyampaikan nanti kalau itu dibutuhkan oleh sekolah, kami juga teman-teman dari MTs 4 dan lain-lain jadi teman kami jadi banyak, suka cerita nanti di SMAnya dimana? Kadang suka SMS mau ngumpul ga di sini jalan bareng, Merry kan fotografer dan sering ngajak foto bareng.
Serunya walaupun kita ngumpul dari beda agama, beda kelas social tetapi memberi warna baru, ngomongnya ga monoton jadi sangat beragam.
Dari hasil pengamatan peneliti sejak FGD tahap awal, shooting film, pelatihan terlihat bahwa mereka cepat beradaptasi, sangat akrab, menyatu dalam perbedaan. Mereka saling bercengkerama dan saling “ngeledek” tanpa menyingung perbedaan yang ada pada mereka. Mereka terdiri dari suku yang berbeda: Betawi, Jawa, Sunda, Batak, Menado dan ada juga yang keturunan Thionghoa. Begitu pula agama mereka berbeda-beda: Islam, Katolik, Protestan, Budha.
Ada di antara mereka yang mengusulkan untuk mengangkat budaya lain dan tema yang lain yang intinya menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya Indonesia. Mereka juga mengusulkan agar ada kaderisasi di sekolah karena mereka akan ke SMA padahal program ini bagus. Mereka juga berharap nanti di SMA ada program ini dan mereka terlibat juga. Bagi guru-guru, karena tidak semua guru dapat pelatihan mereka menyarankan agar guru lain juga mendapat pemahaman yang sama. Harapan mereka tersebut dikaitkan dengan masih ada guru yang kurang menghargai kelebihan dan kekurangan siswa, misalnya ada anak yang kurang menonjol di pelajaran ini tetapi gurunya memperlakukannya kurang baik, seharusnya guru membantu anak yang kurang itu. Intinya siswa melihat masih ada guru yang memperlakukan siswanya berbeda.
Menurut ku belum ada guru yang pembelajarannya sama seperti kemarin. Mungkin guru-guru mendapatkan pembelajaran yang sama seperti kita supaya merekapun dapat menyampaikan ke murid-murid lain. Jadi kalau kita yang menyampaikan ke guru gak enak, takut kurang sopan. Guru juga harus menghargai setiap anak karena anak ada yang menonjol ada yang enggak tapi guru lebih ke sini harusnya kan lebih membantu yang kurang menonjol itu jadi jangan dibedakan.
Mereka mengusulkan agar sekolah lain juga dapat melakukan hal yang sama, dan bila SMP 215 mau melakukan untuk sosialisasi kepada guru lain, mereka memerlukan bimbingan dari Atma Jaya.
Para siswa juga merasakan keunggulan belajar dengan media audio visual: tidak membosankan, lebih cepat dimengerti karena ada contoh-contohnya.
Tidak membosankan, biasanya nulis, mendengerin, menulis, ngedengarin, cepat dimengerti karena contohnya ada, oo ini ternyata begini….oh ternyata begini…
Kendala yang dihadapi oleh guru saat implementasi program
Implementasi pendidikan multikultural di lima SMP memang sangat menarik dan bermanfaat bagi siswa dan guru, namun para guru juga mengahadapi beberapa kendala. Kendala-kendala yang dihadapi pada umumnya adalah keterbatasan waktu yang tersedia, sehingga guru harus dapat menyesuaikan agar dapat membahas film setelah siswa menyaksikannya. Ketersediaan ruangan dan sarana untuk pemutaran film belum memadai, misalnya kegiatan dilakukan di ruang laboratorium IPA.
Wawancara dengan kepala sekolah
Hanya dua orang kepala sekolah yang berhasil diwawancarai. Pendapat beliau hampir sama dengan Penelitian awal. Mereka begitu yakin program ini bagus. Dan mereka akan mengimplmentasikan di sekolah masing-masing dengan cara guru yang terlibat diminta menularkan ke teman lain di sekolah tersebut. Bila sekolah mereka sudah bisa dijadikan model, mereka akan mensosialisasikan ke sekolah lain dengan wadah MGMP yaitu musyawarah guru mata pelajaran baik di tingkat kecamatan maupun tingkat kodya.
Secara tegas kepala sekolah mengatakan kalau program ini cocok dengan program pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa. Sekarang guru-guru juga sudah harus memasukkan ke dalam RPP.
Revisi
Dari hasil diskusi dan wawancara, ada beberapa hal yang harus diperbaiki di dalam film, buku panduan guru dan buku panduan siswa.
DISKUSI
Dari hasil penelitian terlihat bila suatu sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru dan siswa merasa membutuhkan suatu program, maka hasilnya akan bagus. Sesuai dengan pendapat Dick & Carey (1996) dan Suparman (1997) bahwa tahap awal dalam pengembangan model pembelajaran adalah mengidentifikasi kebutuhan. Pada tahap ini, pemilihan media juga dilakukan agar guru memahami untuk tmenentukan jenis media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Anderson (ahli media pembelajaran) mengatakan hal yang terpenting dilakukan sebelum pengembangan media adalah memilih jenis media yang akan digunakan.
Pada tahap pengembangan bahan ajar semua pihak terlibat. Guru sebagai implementator dan siswa sebagai fasilitator sebaya dilibatkan dalam memilih budaya apa yang akan diangkat untuk menghargai kearifan lokal dan tema apa untuk nilai-nilai multikultural. Keterlibatan guru dan siswa sangat efektif dalam implementasi program, guru merasa memiliki program dan bangga menggunakannya sehingga mereka merekomendasikan agar program ini juga digunakan di sekolah lain. Keterlibatan siswa dalam pengembangan bahan ajar mempunyai nilai tersendiri bagi mereka. Mereka terlibat diskusi dengan teman-teman yang berbeda agama, budaya, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Mereka mulai merasakan kalau kita berbeda dan harus menghargai perbedaan itu. Kegiatan tahap pertama dan kedua sejalan dengan pandangan Tilaar (2004) yang mengatakan tiga prinsip pokok dalam menyusun program pendidikan multikultural adalah 1) berdasarkan kesetaraan, 2) mewujudkan manusia yang cerdas yang penuh toleransi dan 3) mengantisipasi generasi muda agar tidak hanyut dalam globalisasi.
Keterlibatan siswa sebagai pemain membuat suasa kelas menjadi bersemangat, semua siswa serius tetapi santai menonton serta aktif mengomentari film. Dalam prinsip pembelajaran (Dimiyati: 1994) dikatakan guru harus bisa menarik perhatian siswa sehingga siswa termotivasi dan aktif dalam pembelajaran. Dari hasil postes, 100% siswa mengatakan suka belajar dengan media audio visual, alasan mereka karena manarik, lebih mudah dimengerti, mudah diingat, menyenangkan, bisa melihat langsung, lebih interaktif, mengasikan, lebih jelas daripada guru menjelaskan, tidak mudah jenuh, tidak membosankan, dan tidak mengantuk. Artinya belajar dengan media audio visual efektif dalam model ini. Hal ini juga ditunjang dengan perubahan pengetahuan dan sikap siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, ada kebutuhan para pemangku kepentingan pendidikan di lima SMP untuk menerapkan pendidikan multikultural di sekolahnya dan memandang pendidikan multikultural penting untuk diimplementasikan di sekolah lain melihat kondisi negri kita sering konflik. Kedua, tema multikulturalisme yang diangkat dapat diimplementasikan ke dalam beberapa bidang studi dan sangat disukai dan cepat dipahami oleh siswa. Ketiga, model yang menggunakan media audio visual ini efektif untuk melatih siswa agar menghargai perbedaan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan budaya lokal.
Disarankan agar model pendidikan multicultural ini sebaiknya diberikan ke sekolah-sekolah lain karena sesuai dengan rencana pemerintah tentang membangun karakter bangsa. Selain itu perlu kebijakan kepala sekolah untuk mendorong guru-guru agar inovatif sehingga pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan. Untuk itu sosialisasi kepada para kepala sekolah sebagai pengambil keputusan perlu dilakukan. Terakhir, sebaiknya dibuat juga film-film sejenis dari berbagai budaya di Indonesia.
PUSTAKA ACUAN
Agustian, Murniati. dkk. 2006. Pengembangan Model Pendidikan Multikultural untuk Anak Usia Sekolah dengan Menggunakan seri Pustaka Anak Nusantara. PKPM Unika Atma Jaya bekerjasama dengan Public Affarirs Section U.S Embassy Jakarta Indonesia.
Anderson, Ronald H (terj). 1987. Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta: Rajawali.
Carey, Lou & Dick Walter. 1996. The Systematic Design of Instruction. New York: Harper Cllins College Publishers.
Fisher, Simon (terj). 2000. Mengelola Konflik. Jakarta: The British Council, Indonesia.
Gerung, Rocky (ed.). 2006. Hak Asasi Manusia Teori, Hukum, Kasus. Jakarta: FILSAFAT-UI PRESS.
Juwita. Kompas.com, Mei 2008.
Kronologis Tragedi Poso, 10 Juni 2006. http://tragediposo.busythumbs.com
Heinich, Robert,. Michael Molenda, James D. Russell. 1989. Instructional Media: and The New Technologies of Instrction. New York: Macmillan Publishing Company.
Suseno, Frans Magnis, dalam Paul SosenoTahalele, dkk (ed.). 2000. Indonesia Di Persimpangan Kekuasaan Dominasi Kekerasan atas Dialog Publik. Jakarta: The Go-East Institute dengan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia.
Soetomo, Agus HK (ed.). 2001. Satu Nusa: Pustaka Anak Nusantara. Jakarta: Visi Anak Bangsa-Indoofood-Dian Rakyat
Suparlan, Parsudi. 2002. Membangun Kembali “Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika”: Menuju Masyarakat Multikultural. Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia ke-3, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 16–19 Juli.
Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. PAU-PPAI-DIKTI-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme: Tantangan-tangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.
Catatan: Makalah ini sudah diterbitkan di “Jurnal Perkotaan”, Juni 2011, Vol.3 No.1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, ISSN 1978-9416