Sabtu, 12 Mei 2012


Peter Senge dalam bukunya The fifth discipline the art and practice of the learning organization, bagian II, bab 4 (1994:42-52), memaparkan ada sebelas hukum dalam  berpikir sistem,  menurut penulis masing-masing hukum penting untuk dipahami dan diterapkan dalam berorganisasi. Sebelas hukum Disiplin Kelima tersebut: adalah  
  
      1. Masalah hari ini datang dari "solusi" hari kemarin
Artinya, jangan cepat puas dengan hasil kemarin apalagi bila solusi yang diambil menimbulkan masalah baru di bagian lain. Solusi yang hanya memindahkan masalah dari satu sub sistem yang lain,  ke sub system yang lain, sering tidak terdeteksi.  Contoh  suatu PH sedang melakukan pengambilan gambar untuk suatu film, tiba-tiba system audio dari kamera SLR Nikon tidak dapat merekam, yang terekam hanya gambar. Tanpa diskusi dengan bagian teknisi, petana suara memutuskan menggunakan kamera tipe PD 170, tetapi khusus untuk audio.  Solusi saat itu adalah shooting menggunakan 2 kamera dengan alasan kamera SLR mutu gambarnya bagus dan kamera PD 170 untuk merekam suara. Ketika itu pemecahan masalah tercapai karena pengambilan gambar dapat dilakukan  sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan.  Setelah shooting, proses selanjutnya adalah editing, masalah hari ini datang, staf editing mengalami kesulitan untuk menggabungkan gambar  dan audio dari 2 jenis  kamera yang berbeda.  Lalu kepala proyek mengajak rapat untuk evaluasi proses shooting,  penyebab masalah akhirnya diketahui yaitu baterai  audio kamera lemah, penata suara tidak memeriksa perlengkapan  sebelum shooting.
Waktu menyelesaikan masalah ketika kasus terjadi, penata suara merasa dirinya paling tahu, dia mengabaikan keahlian orang lain seperti teknisi. Penata suara tidak berpikir system, yang dia pikirkan adalah menyelesaikan pekerjaan hari ini dan tidak melihat resiko terhadap bagian lain

2.   Semakin keras Anda menekan, semakin keras  sistem menekan kembali. 

Menurut  Senge,  semakin besar  usaha organisasi  untuk mencoba meningkatkan  sesuatu,  semakin besar juga usaha yang dibutuhkan.  Lebih lanjut dikatakan berpikir sistem untuk fenomena ini  dikenal  dengan istilah umpan balik kompensasi,   tanpa disadari  ini justru merupakan kerugian. Senge memberikan contoh bahwa banyak organisasi melakukan berbagai cara ketika kehilangan daya tariknya, seperti: iklan besar-besaran yang membutuhkan biaya sangat besar dan menurunkan harga,  namun tetap kehilangan pelanggan. Dalam suatu organisasi, bekerja di bawah tekanan, atau intervensi akan sangat melelahkan.  Contoh, bila staf selalu ditekan agar datang tepat waktu, tidak boleh bolos kerja tanpa melihat penyebabnya, akan membuat staf stress , sehingga disiplin tercapai tetapi staf tidak ada ditempat kerja, atau tidak termotivasi untuk menjadi lebih baik targetnya hanya tepat waktu, artinya dari sisi tenaga kerja, organisasi kehilangan jam kerja efektif.

3.      Perilaku berkembang  dengan lebih baik sebelum dia berkembang  menjadi buruk. 
   
Dalam berpikir sistem, Sange mengingatkan bahwa  intervensi untuk solusi,  hanya terlihat lebih baik dalam jangka waktu pendek, namun  tidak mengatasi masalah mendasar untuk kedepan.  Umpan balik kompensasi datang kemudian, persoalan-persoalan jangka panjang dan kompeks justru muncul  dikemudian hari. Diperlukan proses belajar yang terus menerus dan memperhatikan proses pengambilan keputusan yang baik. Perlu mental model dan membangun visi bersama agar perilaku terus berkembang menjadi lebih baik.    

4. Jalan keluar yang mudah biasanya mengarah ke jalan kembali.
  
Menurut Senge kita semua merasa nyaman bila menerapkan pemecahan masalah yang  sudah kita kenali masalahnya. Bila berpikir tidak menerapkan berpikir sistem, ada kecenderungan menyelesaikan masalah dengan menemukan  solusi  yang  mudah  atau menerapkan kembali  solusi yang  seringkali  dilakukan, ini  justru  membuat masalah mendasar masih tetap  berlangsung atau  semakin parah.  Seperti contoh kasus pada hukum pertama, bila setiap ada masalah dengan audio, staf tersebut akan mengambil keputusan seperti itu, akar masalah mengapa audio tidak keluar pada kamera SLR akan selalu menjadi masalah.

5.      5. Penyembuhan bisa lebih parah daripada penyakit.

Menurut Senge, kadang-kadang  solusi yang mudah dikenali  bukan hanya tidak efektif, kadangkala menjadi  kecanduan dan berbahaya. Contoh yang sederhana diberikan Senge adalah tentang alkaholik , awalnya minum sebagai relasi social karena merasa self esteem rendah, dan stress karena kerja, tetapi akibatnya dia malah kecandua sehingga tambah stress dan harga diri tambah rendah dibandingkan sebelumnya. Untuk jangka panjang, konsekuensi yang paling membahayakan dari penerapan solusi non-sistemik adalah peningkatan kebutuhan akan solusi  dan lebih besar lagi.

6.      6. Percepatan  merupakan perlambatan.
Senge menulis kembali cerita kuno tentang kura-kura yang lambat tetapi menang dalam perlombaan.  Dia menekankan segala sesuatu yang berkembang terlalu cepat, diluar  kapasitas, mengindikasikan  adanya atau akan ada ketidakseimbangan.  Perkembangan yang  begitu cepat mungkin saja merupakan dampak dari solusi jangka pendek yang berdampak pada kebiasaan  perilaku membaik sesaat, Senge mengatakan  ini merupakan kasus klasik dari “pengetahuan yang minim, akan menjadi sesuatu yang membahayakan”.

7.  Sebab dan akibat tidak begitu erat kaitannya dengan waktu dan ruang.

Sebab adalah interaksi dari sistem yang mendasari  dan yang paling bertanggungjawab terjadinya gejala. Akibat adalah gejala yang jelas yang  mengindikasikan bahwa terdapat masalah.  Mengapa terjadi masalah? Senge mengatakan bahwa kebanyakan kita berasumsi bahwa sebab dan akibat sangat dekat dengan waktu dan ruang.  Dia menekankan penting untuk mengenali interaksi sistem yang mendasari terjadinya gejala. Semua  masalah yang muncul sebenarnya diakibatkan oleh ketidaksesuaian  antara realitas dalam sistem yang kompleks dan cara berpikir mengenai realitas itu.  Hal yang perlu dikoreksi pertama kali  adalah dugaan bahwa  sebab dan akibat  berhubungan dekat dengan waktu dan ruang. 

8.      8. Perubahan  kecil dapat menghasilkan  akibat yang lebih besar- tetapi area paling besar
pengaruh
nya  seringkali kurang jelas.

Ada yang berpendapat bahwa berpikir sistem “ilmu baru yang suram” karena mengajarkan bahwa solusi yang paling jelas, tidak bekerja pada tingkat terbaik, dan masalah menjadi tambah jelek di jangka panjang. Bagi pemikir system, menunjukkan bahwa tindakan yang kecil dan sangat fokus kadang-kadang bisa mengahasilkan peningkatan yang signifikan dan tetap, pemikir sistem mengakat prinsip ini sebagai “suatu pengungkit”. Menurut Sange,   terdapat aturan yang tidak mudah untuk mengetahui perubahan pengungkit yang tinggi, tetapi terdapat cara berpikir yang membuat itu mungkin.

9. Anda dapat memiliki kue dan memakannya  tapi tidak sekaligus.

Kadang-kadang, dilema yang sangat rumit dilihat dari sudut pandang sistem, bukanlah  dilema dalam arti luas. Dilema tersebut  merupakan wujud dari “tembakan” dibandingkan “proses”  berpikir. Senge memberikan contoh tentang salah satu pabrik di Amerika yang berpikir bahwa mereka telah memilih antara biaya rendah dan mutu tinggi.  Contoh yang dikemukakan oleh Senge menjelaskan pentingnya  memikirkan keduanya, yaitu   “tembakan”  dan “proses”  untuk memperoleh peningkatan secara bertahap dari waktu-kewaktu .

10. Membelah gajah menjadi dua tidak menghasilkan dua gajah kecil.

System kehidupan memiliki integritas, hal yang sama juga berlaku bagi organisasi. Kisah tiga orang buta dalam buku ini tidak mencerminkan berpikir sintem karena satu orang buta yang memegang telinga gajah lalu mengatakan gajah itu lebar seperti karpet. Ketika satu orang lagi memegang belalai gajah lalu dia mengatakan gajah itu seperti pipa dan berlubang. Orang ketiga memegang kaki depan gajah dan mengatakan ini kokoh dan kuat seperti tiang. Artinya ketiga orang buta ini tidak mengatahui gajah yang sesungguhnya. Bila suatu organisasi hanya melihat permasalahan di unitnya saja maka dia tidak melihat lembaga atau departemen secara keseluruhan, bagaimana mungkin dia akan berinteraksi?, Inti dari hukum kesepuluh ini adalah  pentingnya memahami fungsi interaksi antar unit dalam suatu organisasi untuk solusi suatu masalah.   Menemukan solusi dengan cara sambil lalu  hanya akan menimbulkan kekacauan,  karena tidak akan menghasilkan perubahan yang diinginkan. 

11.  Tidak menyalahkan

Saya  sependapat dengan Senge bahwa berpikir sistem, tidak boleh menyalahkan pihak luar untuk masalah yang sedang dihadapi. Komponen-komponen yang ada dalam system tersebut  dan penyebab masalah yang ada dalam organisasi merupakan bagian dari sistem. Terakhir Senge mengatakan obatnya terletak pada hubungan Anda dengan “musuh” Anda. Untuk pernyataan Senge yang terakhir ini, perlu ditambahkan selain hubungan dengan musuh atau pesaing, organisasi perlu menciptakan manusia-manusia dengan personal mastery karena orang seperti ini akan dapat menyelesaikan masalah bukan menjadi bagian dari masalah. 

Sumber
Senge, Peter M. (1994). The Fifth Discipline: The Art and Practice of The Learning Organization. New York: Doubleday

Sabtu, 07 April 2012

Pengembangan Media Audio Visual Untuk Matakuliah Metodologi Penelitian di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya


Oleh: Murniati Agustian[1]


Abstrak

Media audio visual merupakan media yang paling baik digunakan untuk tujuan  pembelajaran yang berkaitan dengan prosedur atau proses. Matakuliah metodologi penelitian merupakan matakuliah  yang banyak berkaitan dengan prosedur dan proses sehingga media yang baik  untuk digunakan adalah media audio visual. Untuk mengembangkan sebuah media AV ada 4 tahap yang dilakukan yaitu analisis kebutuhan, pengembangan, ujicoba/implementasi dan evaluasi. Pada tahap analisis kebutuhan, informannya adalah dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas. Pada tahap pengembangan, melibatkan dosen sebagai penulis naskah, ahli materi dan reviewer. Begitu juga saat shooting, dosen dan mahasiswa dilibatkan sebagai pemain. Pada tahap ujicoba, dosen dan mahasiswa menggunakan di kelas dan tahap evaluasi dosen dan mahasiswa sebagai informan. Hasilnya media AV sangat bermanfaat dalam matakuliah metode penelitian, dosen dan mahasiswa sangat senang dan menyukai media AV.
Kata kunci: media AV, pengembangan, dosen dan mahasiswa, hasil belajar.

 Pendahuluan

Media, bentuk jamak dari medium atau perantara, merupakan sarana komunikasi untuk menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima pesan (Heinich dkk 1989, Suparman 2011, Smaldino 2011). Ada 6 bentuk media yaitu:
1.teks/buku/cetak,
2. audio,
3. visual,
4. model /benda yang sebenarnya
5. orang
6. audio visual

Suparman (2011) mengatakan, media digunakan dalam kegiatan instruksional karena dia mempunyai kemampuan: 1) memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata; 2) menyajikan benda atau peristiwa yang terletak jauh dari mahasiswa; 3) menyajikan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan sangat cepat atau sangat lambat menjadi lebih sistematis; 4) menampung sejumlah besar mahasiswa untuk mempelajari susuatu dalam waktu yang bersamaan; 5) menyajikan benda atau peristiwa berbahaya kepada mahasiswa; 6) meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian mahasiswa; 7) meningkatkan sistematika pengajaran.
Media audio visual ( media AV) merupakan salah satu  media yang dapat digunakan  secara sistematis,  yang dirancang berdasarkan spesifikasi desain instruksional karena  mempunyai beberapa kelebihan dalam pembelajaran. Menurut Heinich, Molenda dan Russell (1989), media AV mempunyai beberapa kelebihan yaitu, bergerak, merupakan suatu proses, dapat diobservasi, dapat didramatisir, baik untuk domain afektif, dan dapat untuk memecahkan masalah.
Smaldino dkk (2011) mengatakan bahwa media AV mempunyai kelebihan seperti: bisa membawa peserta didik ke mana saja dan memperluas minat peserta didik melampaui batas dinding kelas,  benda-benda yang terlalu besar atau yang terlalu kecil dapat dihadirkan di kelas melalui media AV, peristiwa berbahaya untuk diamati bisa dipelajari dengan aman melalui media AV, serta waktu dan biaya kunjungan lapangan dapat dihindari.
Bila ditinjau dari tujuan pembelajaran, media AV dapat  digunakan untuk mencapai tujuan di ranah kognitif, afektif dan psikomotor (Anderson 1987, Smaldino dkk 2011).  Smaldino menambahkan untuk ranah interpersonal.
Untuk tujuan kognitif,  media AV dapat menunjukkan contoh cara bersikap, atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi manusiawi. Reka ulang dari kejadian sejarah,dan  proses pembuatan suatu produk juga dapat ditampilkan melalui media AV.
Untuk tujuan afektif, Anderson menekankan bahwa media AV merupakan media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi sikap dan emosi. Smaldino mengatakan bahwa media AV bisa bermanfaat dalam membentuk sikap personal dan sosial.
Untuk tujuan psikomotor, media AV  merupakan media yang paling tepat untuk menampilkan contoh keterampilan yang menyangkut gerak, misalnya berenang, melompat dan lain sebagainya. Smaldino mengatakan bahwa media AV sangat hebat untuk menampilkan bagaimana seseorang bekerja seperti tukang kayu membuat gentong pada abad ke-18. Pertunjukan kemampuan motorik bisa dengan mudah diamati dengan media  AV dibandingkan dengan melihat dalam kehidupan nyata.
Smaldino dkk (2011) menambahkan untuk tujuan di ranah interpersonal, peserta didik yang beraneka ragam dapat menonton bersama-sama untuk membangun kesamaan persepsi. Peserta didik dapat berdiskusi dan mampu menyelesaikan konflik diantara mereka. Mereka bisa berlatih di depan kamera untuk kemampuan interpersonalnya serta mengamati diri mereka sendiri untuk bahan refleksi sehingga mereka bisa menelaah sikap mana yang sepatutnya mereka pertahankan.
Untuk mengkasilkan media AV yang efektif, ada empat langkah yang sebaiknya dilakukan yaitu analisis kebutuhan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Dalam makalah ini akan dibahas pengembangan media audio visual untuk mata kuliah metodologi penelitian di Unika Atma Jaya, Jakarta. Mengapa yang dipilih sebagai prioritas untuk dikembangkan  mata kuliah metodologi penelitian? Karena mata kuliah tersebut diajarkan pada semua fakultas dan untuk beberapa tujuan sangat abstrak bila dijelaskan dengan ceramah.
Mata kuliah metodologi penelitian mengharapkan mahasiswa mampu membuat perencanaan penelitian dalam bentuk proposal penelitian. Kompetensi yang diharapkan adalah mahasiswa dapat menjelaskan hakekat dan jenis-jenis penelitian; mahasiswa dapat mencari, menemukan, dan mengevaluasi kebenaran dan kedalaman informasi, serta memanfaatkannya dengan etis (sesuai dengan kaidah APA); mahasiswa dapat merumuskan masalah yang akan diteliti serta alasannya, dan menyusunnya dalam proposal;  mahasiswa dapat merumuskan dan menyusun tujuan dan manfaat penelitian yang relevan dengan perumusan masalahnya.
Selain itu diharapkan juga mahasiswa dapat mengembangkan landasan teori dan menggambarkan kerangka pemikiran yang sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian; mahasiswa dapat mengembangkan metode penelitian yang sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian serta kerangka pemikiran.[2]

Pengembangan Media AudioVisual
Ada empat tahap kegiatan yang dilakukan, dalam setiap tahap ada langkah-langkah yang sebaiknya diikuti. Bila dilihat dari sisi pengelolaan, kegiatan pengembangan harus dikoordinir oleh satu orang dan setiap tahap kegiatan mempunyai penanggungjawab.  Pada kegiatan ini,  tim pelaksananya adalah:
Tahap I: Analisis Kebutuhan
Pada tahap ini, koordinator peneliti awal yang bertanggung bertanggungjawab.
Dalam suatu pertemuan tidak resmi antara peneliti dan dosen pengampu matakuliah metodologi penelitian, banyak dosen yang mengatakan bahwa mengajar mata kuliah ini sulit karena abstrak. Banyak mahasiswa yang sulit membuat proposal dan tidak siap melakukan penelitian untuk skripsi mereka. Seharusnya mahasiswa bisa membuat proposal untuk skripsi mereka.
Pada awal tahun 2009, dibentuklah tim peneliti untuk melakukan penelitian awal dengan tujuan menggali permasalahan dan mengidentifikasi kebutuhan para dosen yang mengampu mata kuliah ini. Metode pengumpulan data yang gunakan adalah  focus group discusian (FGD) dengan delapan orang dosen yang berasal dari beberapa fakultas yang ada di Unika Atma Jaya.
Dari hasil FGD,  terlihat kebutuhan  para dosen untuk menggunakan  media AV pada topik-topik yang dirasa sulit untuk diberikan. Topik yang dipandang sulit oleh para dosen adalah: perumusan masalah, wawancara mendalam, FGD, observasi, penentuan metode statistika dalam penelitian, analisis data kualitatif, kerangka teoritik, proses pengumpulan data kuantitatif mulai dari konsep sampai pemilihan responden serta teknik eksperiment untuk fakultas psikologi.   
Pada bulan Mei tahun 2009, berdasarkan penelitian awal, Studio Teknologi Pendidikan, salah satu unit di bawah koordinasi Perpustakaan Unika Atma Jaya Jakarta  membuat perencanaan untuk membuat media AV yang dibutuhkan. Dibentuklah tim produksi dengan jadwal mulai produksi, ujicoba selama satu semester dan evaluasi.
Pada tahun 2009 diproduksi tiga topik  yaitu perumusan masalah, FGD dan wawancara mendalam yang menjadi prioritas untuk dikembangkan. Tahun 2010 dua topik yang dikembangkan yaitu observasi dan penentuan metode statistik dalam penelitian. Tahun 2011, dua topik dikembangkan yaitu analisis data kualitatif dan kerangka teoritik.
Menurut beberapa teori tentang pengembangan instruksional baik untuk sistem intruksional maupun untuk produk instruksional dalam bentuk modul dan media AV, tahap pertama ini mutlak dilakukan.
Tahap II: Mendisain dan mengembangkan media AV beserta panduannya.
Menurut Saroengallo (2008), keberhasilan pekerjaan produksi media AV tergantung dari kerjasama penulis skenario, sutradara dan produser.
Tahap dua ini terdiri dari beberapa langkah yaitu pra produksi atau persiapan, produksi dan editing.
1) pra produksi yang terdiri dari menulis skenario dan mempersiapkan shooting.  Skenario ditulis oleh staf studio dan salah satu dosen yang mengampu mata kuliah ini. Untuk beberapa judul  penulis naskah hanya dilakukan oleh staf studio, bila ini terjadi ahli materi dilibatkan dan diambil dari salah satu dosen pengampu matakuliah ini.
Tim penulis memulai dengan mempelajari tujuan dan materi. Dalam proses penulisan skenario ini, dilakukan beberapa kali diskusi dan melibatkan dosen lain sebagai reviewer atau ahli materi. Skenario yang ditulis dan diperbaiki didiskusikan dengan tim produksi yang telah ditentukan sehingga  skenario siap untuk diproduksi. Tim produksi terdiri dari sutradara dan asisten, penata kamera dan asisten, penata artistik dan asisten,  penata lampu, penata audio, editor, penata grafis, dan pembantu umum.
Kekuatan dari skenario yang sudah dibuat adalah selain fokus pada tujuan dan  topik yang telah ditentukan, permasalahan yang diangkat adalah permasalahan mahasiswa dan latar kampus. Pengalaman dosen dan mahasiswa sangat mempengaruhi gaya penulisan skenario.
2) produksi yang terdiri dari, memilih pemain, menentukan lokasi,  membuat jadwal dan rapat tim produksi dengan pemain.
Berdasarkan skenario, tim produksi memutuskan bahwa semua pemain diambil dan dipilih dari mahasiswa dan dosen di Atma Jaya. Untuk mahasiswa ada langkah yang harus dilalui yaitu casting.  Hasilnya terpilih pemain utama dan pemain pendukung.
Hunting lokasi dilakukan untuk melihat layak atau tidaknya lokasi yang dipilih. Diperkirakan juga dari sisi artistik dan ketersediaan peralatan terutama lampu. Berdasarkan hunting lokasi, manager produksi membuat jadwal yang efisien.
Pengambilan gambar dilakukan berdasarkan jadwal yang sudah disepakati. Adakalanya terjadi perubahan dari yang sudah ditetapkan di skenario tetapi tidak merubah substansi misalnya bahasa yang lebih mudah dipahami, lokasi shooting.
Di samping itu, hal yang tidak boleh dianggap enteng adalah konsumsi.  Semua kebutuhan konsumsi pemain dan tim produksi sudah disiapkan sehingga pengambilan gambar dapat berjalan dengan sedikit hambatan.
Shooting dapat berjalan baik dan sesuai dengan waktu yang disediakan. Hal ini tercapai karena  kekuatan lain dari skenario yaitu, mengangkat permasalahan mahasiswa dan melibatkan mahasiswa dan dosen sebagai pemain sehingga pemain cepat memahami dan beradaptasi dengan skenario. 
3) editing. Pada langkah ini, yang dilakukan adalah menyusun rangkaian AV dari master shoot sesuai dengan naskah dan perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Langkah berikutnya adalah menghaluskan  menggabungkan musik, tulisan, grafis penunjang.
Preview pertama dilakukan dengan mengundang penulis naskah, ahli materi dan dosen pengampu. Berdasarkan preview pertama, revisi dilakukan. Prewiev kedua dilakukan dengan mengundang orang yang sama, revisi terakhir dilakukan dan media AV sudah siap diujicobakan di kelas. 
Buku panduan:
Bersamaan  dengan kegiatan produksi, penyususnan buku panduan dikerjakan oleh dosen pengampu matakuliah, dan desainer pembelajaran. Buku panduan ini berisi: sekilas tentang penelitian, sekilas tentang topik terkait misalnya observasi atau wawancara mendalam, dan prosedur pembelajaran dengan media AV.
Buku ini berfungsi untuk memandu dosen  mengunakan media AV, menurut Anderson, bagaimanapun bagusnya media yang dibuat bila tidak digunakan dengan baik tidak akan berhasil.
Tahap III: uji coba dan Implementasi
Media AV yang sudah dipindahkan ke dalam format DVD dicobakan di kelas oleh para dosen yang mengampu mata kuliah metodologi penelitian di beberapa fakultas seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Ada berbagai cara yang dilakukan oleh dosen dalam menggunakan media AV yaitu: Pertama, dosen memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajarannya, setelah itu mengajak mahasiswa untuk menonton dan terakhir diskusi .
Kedua, dosen menjelas sedikit topik yang akan dibahas, menonton sambil berdiskusi sesuai dengan tahapan dan pertanyaan dalam DVD. Saat diskusi DVD player di’pause’ dulu. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam  film juga sangat membantu. Pada FGD ada pendapat yang sama dari mahasiswa, diskusi per segmen dalam DVD sesuai dengan pertanyaan akan membantu mahasiswa untuk lebih mudah mengambil kesimpulan. Adanya pertanyaan di dalam media AV dapat membedakan bahwa  media yang dibuat adalah media instruksional bukan media hiburan.
Ketiga, ada dosen yang betul-betul menggunakan media AV sebagai bahan diskusi. DVD langsung diputar dan diskusikan bersama serta membandingkan dengan buku-buku yang terkait topik kuliah. Misalnya tentang orisinil, apakah orisinil itu? Apakah kita bisa melakukan replikasi?
Pada setiap akhir kuliah, diberikan kuesioner dengan dua pertanyaan terbuka yaitu: pembelajaran apa yang anda peroleh setelah menonton DVD ini? Apakah anda menyukai cara belajar dengan media AV? Mengapa?  Staf studio juga melakukan observasi Ujicoba ini dilakukan selama satu semester, melibatkan 600 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian.

Tahap IV: Evaluasi.
Pada akhir semester, dilakukan evaluasi tentang media AV yang sudah digunakan selama satu semester. Ada 80 mahasiswa yang menjadi peserta FGD, satu kelompok FGD terdiri dari 10 orang mahasiswa, dan  8 orang dosen dari berbagai fakultas yang diwawancarai secara mendalam.


Hasil:
Semua dosen merasakan ada manfaat ketika menggunakan semua media AV untuk mata kuliah metodologi penelitian . Manfaat yang paling dirasakan oleh semua dosen adalah  terbantu dan lebih mudah menjelaskan materi.
Pada  DVD Perumusan Masalah sudah terpapar tentang proses atau tahap perumusan masalah sehingga dosen tidak perlu lagi menjelaskan dengan susah payah. Topik statistik ternyata memudahkan juga, karena yang dipelajari konsepnya bukan cara menghitungnya. Pelaksanaan FGD terlihat jelas, sehingga mahasiswa mengerti cara melakukannya. Untuk topik wawancara mendalam, mahasiswa dapat melihat contoh mana yang tidak boleh dilakukan dalam wawancara mana yang seharusnya dilakukan.
Hampir semua dosen mengatakan bahwa media AV  ini efektif karena mahasiswa cepat memahami apa yang diajarkan, ini diketahui karena setelah menonton film, dosen menanyakan kepada mahasiswa tentang apa yang mereka pelajari. Pernyataan ini sama dengan hasil kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa.
Dilihat dari sisi mahasiswa, sebagian besar mahasiswa menyenangi belajar  dengan AV dan merasa lebih cepat memahami materi kuliah yang ditayangkan dalam video daripada penjelasan oleh dosen di depan kelas. Mahasiswa merasa bosan dan sulit memahami dosen-dosen yang dinilai kurang bagus dalam mengajar.
Menurut informan, kelebihan media AV yang telah dibuat dan digunakan yaitu dirancang berdasarkan permasalahan dan kebutuhan dosen dalam mengajarkan metodologi penelitian dan masalah mahasiswa dalam belajar; media AV  dibuat dengan permasalahan mahasiswa sehingga menarik bagi mahasiswa.
Dari sisi teknis, media AV yang dibuat dinilai sudah lebih baik dibandingkan dengan produksi beberapa tahun yang lalu walaupun ada beberapa kekurangan.
Penyajian ini dinilai sangat menarik karena ada humornya, ada romantisnya, ada kesulitan dalam belajar. Komentar mahasiswa, media AV ini bukan sesuatu yang jauh dari mereka, meskipun sangat  akademik materinya, tapi dengan sentuhan seperti itu lebih masuk ke dunia mereka. Oleh karena itu  mahasiswa yang menonton seolah-olah melihat realita persoalan mereka sendiri dan ini menjadi kekuatan untuk seorang mahasiswa menjadi tertarik untuk melakukan penelitian.
Sisi lain kelebihan dari media AV ini adalah memperlihatkan cara belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Cara belajar yang digambarkan adalah menggunakan perpustakaan, belajar kelompok, menghubungi dosen sehingga ini menarik buat mahasiswa. Cara belajar seperti ini memotivasi mahasiswa untuk melakukannya.
Dari hasil observasi terlihat bahwa mahasiswa sangat antusias menyaksikan, dan mereka rileks dalam belajar. Perilaku mahasiswa yang menjadi pemain membuat mereka tertawa, tersenyum seolah-olah melihat diri sendiri.




KEPUSTAKAAN
1.      Anderson, Ronald .1987, Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, terjemahan Yusufhadi Miarso, et al., Rajawali. Jakarta.

2.      Dyiden, Gordon dan Jeannette Vos. 2000, Revolusi Cara Belajar Bagian II: Sekolah Masa Depan,  Kaifa, Bandung.

3.      Robert Heinich et al. 1999, Instructional Media and Technologies for Learning, Prentice-Hall, Inc,  New Jersey.

4.      Sarunggallo, Tino. 2008, Dongeng Sebuah Produksi Film. Intisari Mediatama. Jakarta.

5.     Smaldino, Sharon E., Lowther, Deborah L., Russell, James D. 2011. Instructional Technology & Media For Learning, terjemahan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

6.      Suparman, M. Atwi (2011). Desain Intruksional. Universitas terbuka, Jakarta

 *catatan: makalah ini sudah dipublikasikan pada Proceedings Seminar Nasional Teknologi Pendidikan untuk Peningkatan Kinerja, Fakultas Teknik UNJ, 14 Januari 2012.


[1] Mahasiswa Program Doktor Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dosen di FKIP Unika Atma Jaya, dan staf di Studio Teknologi Pendidikan-Perpustakaan Unika Atma Jaya.
Email: murniati.agustian@atmajaya.ac.id & murni_agustian@yahoo.com

[2] SAP tim dosen matakuliah Metodologi Penelitian Hukum

Rabu, 28 Maret 2012

PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK ANAK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA AUDIO VISUAL


Murniati Agustian

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta


ABSTRACT

Indonesia has various ethnic groups and therefore cultures.  These make Indonesia an exotic and attractive country.  However, the cultural differences can also be potential sources of conflicts if they are not managed properly. We believe that multicultural education at primary schools may reduce these conflict potentials.  This action research was aimed at developing a multicultural education model for junior highschool using audiovisual aids that can help students appreciate the uniqueness and diversity of peoples and cultures in Indonesia. The research was carried out in several stages: (1) need assessment of school principals, teachers, and students.  According to them, multicultural education was necessary, students should be involved as peer educators, and Betawi culture should be introduced first. (2) learning material development: Films on Betawi culture and social relations among junior high school students, teachers’ and peer educators’ guides to using the films.  At this stage, teachers  were involved as script writers, and students as actors. (3) implementation: Teachers integrated the films into the subjects they taught, peer educators organized film viewings and discussions. (4) monitoring and evaluation: observation was used to monitor the implementation in the schools. 
Several methods were used to evaluate the implementation of the model, namely, pre- and post-tests, FGDs with the teachers and students, and interviews with the school principals.  Based on the evaluation, the learning materials were revised. This action research was carried out for 10 months, with 10 teachers, 16 students as peer educators, and 278 students participated in the implementation stage. Schools involved in this research:  senior and junior high schools with different religious affiliations (Islam, Christianity, Catholicism, and Buddhism). Results: Most of the students (95%) have improved their knowledge in Betawi culture.  All of them appreciated Betawi’s local wisdom.  They (95%) were able to avoid negative inter-cultural attitudes.  They all enjoyed studying using ICT.  The films improved their receptiveness, and saved them from boredom.  The teachers improved their teaching creativity, and school principals were inspired to develop audiovisual media.  So, everybody in the schools changed.

Key word: education, multicultural, high school, learning materials, audiovisual media

PENDAHULUAN
Berbagai konflik yang berakhir dengan kekerasan sudah mencoreng wajah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Bila dilakukan kilas balik sejak tahun 1998, kekerasan yang terjadi sungguh sangat mengerikan. Pada saat itu, hampir serentak di beberapa wilayah tanah air, terjadi pengrusakan dan pembakaran massal. Tahun 1998 konflik antar agama mulai pecah, dimulai dari Poso lalu Ambon tahun 1999. Konflik di kedua daerah ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, yaitu peperangan antara dua saudara yang berbeda agama, orang Kristen membunuh orang Muslim dan orang Muslim membunuh orang Kristen (Suseno:2000). Anak-anak korban konflik mengalami trauma, mereka terpaksa mengungsi dan menyesali mengapa perang saudara terjadi di kampung halaman mereka (Soetomo: 2001). Begitu juga dengan teror-teror bom yang dilakukan di Bali pada bulan Oktober 2002, di beberapa tempat di Jakarta dengan dalih agama (Gerung: 2006).
Konflik dan kekerasan juga dilakukan oleh anak-anak yang dikenal dengan bullying. Ditemukan kasus bullying di 70,65 persen di SMP dan SMU di Yogyakarta (Juwita, Kompas.com: Mei 2008). Kekerasan di sekolah bukan hanya oleh anak tetapi juga dilakukan oleh guru yang seharusnya memberi contoh yang baik.
Dari berbagai kasus di atas muncul pertanyaan mengapa konflik terjadi. Fisher dkk. (2000:3) mengatakan bahwa masyarakat memiliki perspektif atau pandangan yang berbeda tentang hidup dan masalah-masalahnya karena memiliki sejarah dan karakter yang unik, dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan, dilahirkan dalam suatu cara hidup tertentu dan memiliki nilai-nilai yang memandu pikiran dan perilaku dalam mengambil atau menolak tindakan tertentu.
Pendidikan multikultural dipandang dapat meminimalkan kekerasan karena  nilai-nilai  yang dikembangkan adalah  menghargai (toleransi) perbedaan, bersikap solider (saling membantu), tidak berprasangka, tidak melakukan diskriminasi terhadap teman yang berbeda dengannya. Model yang dikembangkan mengintegrasikan pendidikan multikultural dengan mata pelajaran (bidang studi) dan menggunakan media audio visual. Media audio visual digunakan karena sangat efektif dalam merubah perilaku (Anderson: 1998).  Hasil pengembangan model yang dilakukan peneliti dan tim pada tahun 2005-2006 terlihat bahwa ada peningkatan pemahaman dan afeksi anak tentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan.
Dari pembahasan di atas terlihat bahwa pendidikan multikultural sangat dibutuhkan dan terasa ada manfaatnya.  Hanya saja penelitian untuk pengembangan model pada jenjang SMP dan SMA belum ada.  Pertanyaannya adalah bagaimana mengembangankan model pendidikan multikulturalisme pada jenjang pendidikan menengah pertama? Apakah media audio visual menarik bagi anak-anak pada tingkatan SMP? Karena itu peneliti mengembangkan pendidikan multikultural di SMP dengan menggunakan media audio visual.
Secara umum, tujuan Penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengevaluasi model pendidikan multikultural di Sekolah Menengah Pertama agar siswa dapat menghargai perbedaan dan memiliki rasa bangga terhadap kearifan  budaya lokal. Lebih khusus lagi, tujuannya adalah 1) menggali pandangan dan kebutuhan para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat SMP tentang penerapan pendidikan multikultural di tingkat sekolah menengah pertama di wilayah Jakarta; 2) merancang model pendidikan multikultural untuk tingkat SMP dengan media visual; 3) membentuk tim fasilitator di SMP (terdiri atas guru dan siswa) yang akan melaksanakan pendidikan multikultural dengan menggunakan media audio visual; 4) mengimplementasikan model pendidikan multikultural yang menggunakan media visual; 5) mengevaluasi hasil implementasi model pendidikan multikultural yang menggunakan media audio visual untuk perbaikan.

KERANGKA BERPIKIR
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. (Suparlan, 2002). Untuk mencapai hal tersebut  sangat diperlukan sikap masyarakat yang memahami multikultural melalui pendidikan. Menurut Tilaar (2004), ada tiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multikultural yaitu: 1)     berdasarkan pada kesetaraan yang mengakui hak  azasi manusia,  hak kelompok manusia, hak kelompok suku bangsa, hak kelompok bangsa untuk hidup berdasarkan kebudayaannya sendiri, 2)     mewujudkan  manusia Indonesia yang cerdas. Dalam masyarakat pluralis seperti Indonesia dituntut manusia-manusia yang cerdas yang penuh dengan toleransi, 3)     dapat mengantisipasi agar generasi muda tidak hanyut  ke dalam  globalisasi budaya Barat. Tilaar menekankan bahwa globalisasi memberikan banyak hal yang positif, tetapi disamping itu terdapat berbagai hal yang negative misalnya telah menimbulkan ketidakpastian dan kegamangan pada masyarakat di negara-negara berkembang serta  mengubah struktur sosial dan kebudayaannya.
Ketiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multikultural tersebut dapat dikembangkan menjadi program-program pelaksanaannya melalui: lembaga-lembaga pendidikan sebagai pusat budaya, pendidikan kewargaan, kurikulum pendidikan multikultural, kebijakan perbukuan dan pendidikan guru. Bila dilihat tiga prinsip pokok penyusunan program pendidikan multicultural, media yang baik digunakan adalah media audio visual. Anderson mengatakan media audio visual sangat efektif dalam merubah perilaku (Anderson: 1998). Hasil penelitian Agustian (2006:2008) memperlihatkan  bahwa siswa sangat menyukai belajar dengan media audio visual. Media audio visual mempunyai beberapa kelebihan yaitu, bergerak, merupakan suatu proses, dapat diobservasi, dapat didramatisir, baik untuk domain afektif, dan dapat untuk memecahkan masalah ( Heinich dkk.,1986).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         METODOLOGI PENELITIAN
Pendidikan multikultural di-desain dengan mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam kurikulum dengan menggunakan media audio visual. Motor penggerak pendidikan multikultural adalah guru dan fasilitator sebaya. Guru akan memberikan di kelas sesuai dengan bidang studinya, sedangkan fasilitator sebaya sebagai motor penggerak diantara teman-temannya dengan acara yang dirancang bersama guru.
Penelitian awal dilakukan untuk melihat pandangan para pemangku kepentingan tentang pendidikan multicultural di SMP.  Metode yang digunakan adalah focus group discussion (padanan Indonesia: diskusi kelompok terfokus)  dengan guru dan siswa dan in-depthiInterview  (padanan Indonesia: wawancara mendalam) dengan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan. Jumlah informan 26 orang dengan rincian: 5 kepala sekolah, 11 orang siswa SMP dan 10 Guru SMP yang berasal dari lima sekolah berbasis agama dan negri di Wilayah DKI
Berdasarkan hasil penelitian awal, bersama kepala sekolah menentukan 2 guru bidang studi yang akan terlibat. Bersama guru memilih 15 orang siswa yang akan menjadi fasilitator sebaya untuk masing-masing sekolah. Guru memilih pokok bahasan yang akan diintegrasikan ke dalam pendidikan multicultural serta membuat rancangan pembelajarannya. Guru dan siswa menentukan  memilih sub-pokok bahasan yang akan dibuat  media audio visual. Guru menulis skenario, Studio Teknologi Pendidikan Unika Atma Jaya memproduksi dengan melibatkan siswa sebagai pemain. Membuat panduan penggunaan video yang terintegrasi dengan bidang studi untuk guru dan fasilitator sebaya.
Guru  dan fasilitator sebaya diberi pelatihan tentang pelaksanaan model pendidikan multikultural dengan menggunakan media audio visual. Guru dan fasilitator sebaya mengimplementasikan model sesuai dengan perencanaan. Sebelum kegiatan dilakukan, guru memberikan pretest dan posttest setelah diadakan kegiatan. Peneliti melakukan observasi implementasi dan diskusi dengan guru untuk perbaikan model.
Setelah implementasi, dilakukan evaluasi dengan cara FGD terhadap  guru dan fasilitator sebaya. Wawancara dengan kepala sekolah untuk melihat keberlanjutan program. Berdasarkan itu dilakukan revisi. Penelitian ini dilakukan selama sepuluh  bulan.

HASIL
Setelah diskusi dengan peneliti tentang pengertian multicultural, semua informan memandang bahwa  pendidikan multicultural itu penting diberikan di tingkat SMP. Semua informan merasa butuh untuk mengimplementasikan pendidikan multicultural, Kepala sekolah antusias karena menggunakan  media audio visual dan guru terlibat dalam penulisan naskah film.  Bidang studi yang dapat diintegrasikan dengan pendidikan mutikultural adalah: IPS, sejarah, geografi, PPKN,  dan agama.   
Berdasarkan hasil penelitian pada tahap awal, dibuatlan desain pendidikan multicultural dengan menggunakan media audio visual. Untuk menghargai kearifan lokal, film yang dibuat tentang  budaya Betawi: upacara perkawinan, makanan dan minuman, seni bela diri ”Beksi”, bentuk rumah, upacara pindah rumah, alat musik Tanjidor (musik tradisional Betawi). Untuk meningkatkan sikap multikultural dan menghindari sikap negatif, diangkat kasus bullying (penindasan) berdasarkan kisah nyata di salah satu sekolah.
Kelima sekolah telah mengimplementasikan model pembelajaran pendidikan multikultural,  di bawah ini adalah tabel sekolah, kelas dan jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran.

Tabel 1. Sekolah, Kelas dan Jumlah Siswa yang Terlibat.
No.
Sekolah
Kelas
Jumlah siswa
Laki
Perempuan
1
PSKD 3 Jakarta Timur
VII               : 17 siswa
10 siswa
7 siswa
2
PSKD 3 Jakarta Timur
IX                : 14 siswa
8 siswa
6 siswa
3
PSKD 3 Jakarta Timur
VIII             : 33 siswa
12 siswa
21 siswa
4
Darma Suci Jakarta Utara
IX                : 23 siswa
11 siswa
12 siswa
5
Santa Theresia Jakarta Pusat
VII.2            : 35 siswa
16 siswa
19 siswa
6
Santa Theresia Jakarta Pusat
VII.3            : 25 siswa
13 siswa
12 siswa
7
MTsN 4 Jakarta Selatan
IX.6             : 30 siswa
16 siswa
14 siswa
8
MTsN 4 Jakarta Selatan
IX.4             : 33 siswa
15 siswa
18 siswa
9
SMPN 215 Jakarta Barat
VII-VIII-IX: 68 siswa
34 siswa
34 siswa

Total yang terlibat
11 kelas       278
135
143

Kegiatan yang dilakukan di kelas
Pembelajaran di kelas dimulai dengan pretest, setelah itu menyaksikan film bersama, kemudian guru memandu diskusi atau tanya jawab tentang isi dan nilai-nilai yang ada. Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan postes.
Kegiatan di luar kelas oleh guru dan fasilitator cilik.
Ada beberapa sekolah yang melakukan kegiatan di luar kelas, misalnya  di MTSN  mereka melakukan ‘permainan warna-warni’ yaitu setiap siswa diminta memilih warna yang paling disukai dan warna yang paling tidak disukai lalu mereka dimta menjelaskan mengapa mereka suka dan mengapa mereka tidak suka setelah itu mereka membuat karya seni dari kertas tersebut yang hasilnya bagus. Kegiatan ini dilakukan di Masjid sekolah karena jumlah pesertanya cukup banyak selain itu dapat memudahkan siswa untuk melakukan permainan warna.
Di SMP St. Theresia pendidikan multikultural dimasukkan ke dalam program sekolah yaitu ‘Pembinaan Pribadi’ dengan  permainan mengenal lebih  dalam tentang “saya dan teman saya”.  Hasil gambaran diri siswa dikumpulkan untuk memberikan masukan bagi guru BP agar jika ada masalah personal siswa, akan segera ditindaklanjutinya. 
Di SMP Dharma Suci program ini juga dimasukkan dalam kegiatan ekskul Bahasa Indonesia dan Karya Ilmiah Remaja (KIR) berupa debat ilmiah bertema „Multikultural“ dengan peserta wakil dari siswa kelas 7, 8, dan 9 yang dibagi dalam kelompok berdasarkan suku bangsa.
SMPN 215 membuat kegiatan “215 cinema”. Semua film produksi Studio Teknologi Pendidikan ditayangkan, sedangkan  penontonnya adalah anak-anak yang bermasalah pada setiap kelas. Kriteria  anak-anak yang dianggap bermasalah adalah  ngegeng yaitu anak-anak yang suka berkelompok/tidak membaur dengan siswa lain dan sering ngumpul di kantin , sering konflik dengan adik kelas”. Fasilitator memimpin diskusi berdasarkan buku pedoman yang dibuat.
Dari observasi di kelas terlihat guru dan murid sama-sama senang mengimplemetasi program ini. Dari keseriusan siswa menonton terlihat bahwa mereka betul-betul memperhatikan. Ada guru yang kreatif, untuk memulai pembelajaran beliau melakukan permainan terlebih dahulu. Kegiatan di luar kelas juga menyenangkan siswa, mereka menonton bersama, tertawa dan mendiskusikan sikap-sikap negatif yang tidak perlu ditiru. Terlihat bahwa penggunaan media harus diikuti dengan metode yang cocok untuk dipadukan.

EVALUASI
Prates dan postes
Dari hasil prates terlihat ada peningkatan pengetahuan siswa tentang budaya Betawi, seperti tabel di bawah ini:
Tabel 2. Pengetahuan Siswa SMP PSKD tentang Budaya Betawi
Budaya Betawi
Prates
Postes
Pernikahan
9%
91%
Makanan dan minuman
35%
65%
Musik
50%
50%
Rumah adat
7%
93%
Silat Beksi
45%
55%

 Tabel 3. Pengetahuan Siswa SMP Dharma Suci tentang Budaya Betawi
Budaya Betawi
Prates
Postes
Pernikahan
16%
84%
Makanan dan minuman
22%
78%
Musik
30%
70%
Rumah adat
0%
100%
Silat Beksi
25%
75%

Tabel 4. Pengetahuan Siswa SMPN 215 tentang Budaya Betawi
Budaya Betawi
Prates
Postes
Pernikahan
3%
97%
Makanan dan minuman
17%
83%
Musik
7%
93%
Rumah adat
25%
75%
Silat Beksi
7%
93%

Tabel 5. Pengetahuan Siswa SMP Santa Theresia tentang Budaya Betawi
Budaya Betawi
Prates
Postes
Pernikahan
16%
84%
Makanan dan minuman
24%
76%
Musik
47%
53%
Rumah adat
8%
92%
Silat Beksi
20%
80%

Tabel 6. Pengetahuan Siswa MTsN 4 tentang Budaya Betawi
Budaya Betawi
Prates
Postes
Pernikahan
0%
100%
Makanan dan minuman
23%%
77%
Musik
40%
60%
Rumah adat
15%
85%
Silat Beksi
0%
100%

Selain itu siswa SMP  ada yang sudah mengenal ondel-ondel, topeng Betawi, cerita si Pitung, lenong, bahasa/dialek, dan lagu. Mereka mengetahui dari TV, buku pelajaran PLKJ, orangtua, tetangga dan taman rekreasi Situ Babakan.
Pendapat siswa tentang budaya Betawi pada pretest cukup beragam, seperti menghibur, unik, sangat tradisional, bagus, Betawi itu budaya asli Jakarta. Ada sebagian siswa yang berpendapat bahwa bahasa Betawi itu kasar walaupun mereka menghormati orangtua. Hasil post test, tetap beragam tetapi lebih banyak mengatakan sangat menarik, sangat beragam, dan   perlu dilestarikan. Tidak ada lagi siswa yang mengatakan bahwa suku Betawi kasar.
Perasaan hampir semua siswa tentang budaya Betawi pada prates adalah senang bisa mengenal budaya betawi. Pada postes jawaban lebih bervariasi, selain senang ada yang mengatakan kagum, bangga, mengesankan dan menyenangkan ada juga yang mengharuskan untuk dilestarikan dan dipelajari lebih dalam.
Pendapat siswa tentang belajar dengan media audio visual ada dua jawaban yaitu senang dan sangat senang. Alasan mereka sangat beragam seperti, lebih mudah dimengerti, mudah diingat, menyenangkan,  menarik, bisa melihat langsung, lebih interaktif, mengasikan, lebih jelas daripada guru menjelaskan, tidak mudah jenuh, tidak membosankan, dan tidak mengantuk.
Tentang film “Haruskah” yang bercerita mengenai sikap negatif siswa dalam membicarakan kasus korupsi yang terjadi dan film “Pantaskah” yang memaparkan konflik kakak kelas dengan adik kelas karena ”cowok”, 99% siswa mengatakan bisa menghidari sikap negatif seperti dalam film tersebut. Caranya sangat bervariasi yaitu: menjauhi teman yang nakal, berfikir dan bersikap positif pada semua orang, jangan merasa benar sendiri, bedakan mana yang benar mana yang salah, jangan ditiru, saling menghormati,  harus bisa menahan emosi, hormati yang tua sayangi yang muda, sabar, dan hargai perbedaan pendapat.
b. FGD/wawancara dengan guru
FGD/wawancara dengan guru: guru merasa terbantu dengan program ini terutama mengintegrasikan dan menanamkan nilai-nilai positif  ke dalam bidang studi. Panduan yang dibuat menambah wawasan guru tentang pendidikan multikultural. Guru merasa ini perlu ditindaklanjuti terutama kepada guru2 lain di satu sekolah. Begitu juga kepada guru lain di sekolah yang lain. Panduan untuk siswa, ada guru yang mengusulkan agar bahasanya dipermudah.
Setelah mengimplementasikan guru merasa program ini bagus sekali karena melihat konflik yang terjadi di Negara kita dan program ini lebih kepada preventif karena diberikan kepada anak-anak yang akan dewasa.
Ya bagus sekali apalagi waktu kita memulai program ini kasus Tanjung Priok baru terjadi, kemarin terjadi lagi Bogor tentang pendirian gereja itu ada pertikaian-pertikaian mudah-mudahan dengan program ini bisa meminimalisir hal-hal seperti itu ke depannya, karena yang kita tekankan di sini bibit-bibit remaja sekarang dan akan beda bila kita berikan kepada bapak-bapak kita yang melakukan itu…he he memalukan sekali mendengarnya
Menurut guru, siswa sangat antusias melihat film “Haruskah” dan “Pantaskah”,  dan topik tersebut mengena bagi siswa. Selain topik yang mengena, mereka juga senang karena ada teman mereka yang menjadi pemain dalam film itu. Seperti yang terungkap’“oh itu ada teman kita Bu. Hebatnya”. Mereka juga menyadari bahwa perilaku dalam film sama dengan perilaku siswa dalam keseharian mereka yang sebenarnya tidak pantas dilakukan, misalnya beberapa perilaku negatif saling mengejek, dan paham senioritas. 
Guru menilai, para siswa juga sangat tertarik dengan adat-istiadat Betawi, pakaian serta makanan khas Betawi, bagi mereka hal ini sebagai pengetahuan baru tentang budaya Betawi. Misalnya dalam upacara pindah rumah, siswa tertarik ketika orang Betawi membawa tanah dari rumah lama dan ditaburkan di rumah baru.  Dengan mereka belajar budaya  Betawi mereka dapat bersosialisasi di lingkungan tempat tinggal yang kebetulan kebanyakan orang Betawi.
Guru juga melihat dampaknya terhadap anak-anak karena ada anak yang  bertanya, “Bu, Bu jadi begitu ya perasaan orang kalau kita seperti yang dalam film   itu”. Kasus-kasus memaki dan berkata kasar di jejaring sosial sering terjadi pada anak-anak usia SMP, itu hasil pengamatan guru-guru dan menjadi keprihatinan para guru juga.
Kendala dalam implementasinya adalah ruangan multimedia karena sekolah belum memilikinya. Sedangkan untuk program sendiri siswanya suka. Dalam mengintegrasikan program ini ke dalam bidang studi, ada guru yang tidak mengalami kesulitan karena rancangan pembelajaran sekarang mengharuskan ada pengembangan karakter bangsa dan program ini sangat banyak aspek karakter bangsanya banyak sekali.
“Sulit si enggak karena RPP yang sekarang ini mengharuskan adanya embel-embel karakter bangsa, dan program kita ini sangat banyak karakter bangsanya”
Untuk keberlanjutan program, ada guru yang berpendapat bahwa penanaman nilai multikultural dapat dilakukan melalui media komunikasi yang saat ini sedang diminati oleh siswa yaitu ’face book’ (FB). Guru dapat mengontrol dengan bergabung dalam media tersebut di mana siswa terhubung dengan FB. Seperti yang diungkapkan oleh guru,
Saya bisa pelajari status mereka setiap saat. Mereka itu apakah ada yang menghina teman kalau ada saya serahkan ke BK supaya dibina. Na, misalnya menghinanya itu ee, kata kotor anjing itu misalnya, rambutnya seperti si ini gitu kebetulan rambutnya Irian kayak gitu. Itu sudah mengenai suku dan ras. Kebetulan kita juga belajar tentang eee, budaya juga kan. Mau suku apa pun, mau budaya apa pun segi ekonominya bagaimana, kita harus menghargai.
Bila melibatkan atau mengajak guru lain untuk mengimplementasikan, ada guru yang merasa punya kendala karena merasa diri sebagai “yunior” dan takut bila rekan yang lain merasa digurui. Ada juga pemikiran diantara guru-guru bila ada teman yang ikut pelatihan atau program pengembangan dianggap “hanya untuk kamu” jadi guru lain tidak peduli.
“Aduh bu kan saya masih junior ntar teman-teman lain merasa digurui, tapi kalau bos yang mengatakan A pasti yang lain akan ikut A

c. FGD/wawancara dengan fasilitator sebaya
Menurut hasil FGD/wawancara dengan fasilitator sebaya: 1) ada beberapa kata yang ada dalam buku baru diketahui, 2) ada pertanyaan dari teman-teman kenapa hanya film budaya Betawi saja, budaya yang lain juga perlu. Fasilitator  menjawab karena kita di Jakarta, jadi yang kita utamakan Budaya Betawi; 3) film bullying juga menarik,  dan dapat merubah sikap siswa, mereka yang konflik dapat saling pandang,  adik kelas juga tidak “nyolot lagi” (sengaja menantang) tampangnya.
“Budaya pedalaman kan kita juga perlu apa lagi budaya yang kita belum tahu jadi kita juga penasaran, apalagi pedalaman itu alamnya juga bagus”
“Film bullying juga heboh tuh, mereka yang duduk depan belakang dan saling lirik, kakak kelas masih jain, adik kelas sudah tidak nyolot lagi”
Kesan fasilitator cilik tentang program ini adalah: sangat mengesankan, menambah pengetahuan dan banyak teman dari berbagai sekolah, dapat menghargai perbedaan.
Jujur secara pribadi seru, menambah pengetahuan, menjadi akrab dengan teman-teman yang baru kenal, sampai sekarang kita masih kontek-kontekan, dapat ilmunya lebih banyak dan bermanfaat misalnya kita bisa menghargai perbedaan, menghargai orang lain, intinya saya senang.
Bener seru, banyak teman, kalau bisa berlanjut lagi sampai ke SMA supaya teman-teman di SMA juga tahu, kalau mungkin nanti aku juga mau  menyampaikan nanti kalau itu dibutuhkan oleh sekolah, kami juga teman-teman dari MTs 4 dan lain-lain jadi teman kami jadi banyak, suka cerita nanti di SMAnya dimana? Kadang suka SMS mau ngumpul ga di sini jalan bareng, Merry kan fotografer dan sering ngajak foto bareng.
Serunya walaupun kita ngumpul dari beda agama, beda kelas social tetapi memberi warna baru, ngomongnya ga monoton jadi sangat beragam.
Dari hasil pengamatan peneliti sejak FGD tahap awal, shooting film, pelatihan terlihat bahwa  mereka cepat beradaptasi, sangat akrab, menyatu dalam perbedaan. Mereka saling bercengkerama dan saling “ngeledek” tanpa menyingung perbedaan yang ada pada mereka. Mereka terdiri dari suku yang berbeda: Betawi, Jawa, Sunda, Batak, Menado dan ada juga yang keturunan Thionghoa.  Begitu pula  agama mereka  berbeda-beda: Islam, Katolik, Protestan, Budha.
Ada di antara mereka yang mengusulkan untuk mengangkat budaya lain dan tema yang lain yang intinya menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya Indonesia. Mereka juga mengusulkan agar ada kaderisasi di sekolah karena mereka akan ke SMA padahal program ini bagus. Mereka  juga berharap nanti di SMA ada program ini dan mereka terlibat juga. Bagi guru-guru, karena tidak semua guru dapat pelatihan mereka menyarankan agar guru lain juga mendapat pemahaman yang sama. Harapan mereka tersebut dikaitkan dengan masih ada guru yang   kurang menghargai kelebihan dan kekurangan siswa, misalnya ada anak yang kurang menonjol di pelajaran ini tetapi gurunya memperlakukannya kurang baik, seharusnya guru membantu anak yang kurang itu. Intinya siswa melihat masih ada guru yang memperlakukan siswanya berbeda.
Menurut ku belum ada guru yang pembelajarannya sama seperti kemarin. Mungkin guru-guru mendapatkan pembelajaran yang sama seperti kita supaya merekapun dapat menyampaikan ke murid-murid lain. Jadi kalau kita yang menyampaikan ke guru gak enak, takut kurang sopan. Guru juga harus menghargai setiap anak karena anak ada yang menonjol ada yang enggak tapi guru lebih ke sini harusnya kan lebih membantu yang kurang menonjol itu jadi jangan dibedakan.
Mereka mengusulkan agar sekolah lain juga dapat melakukan hal yang sama, dan bila SMP 215 mau melakukan untuk sosialisasi kepada guru lain, mereka memerlukan bimbingan dari Atma Jaya.
Para siswa juga merasakan keunggulan belajar dengan media audio visual: tidak membosankan, lebih cepat dimengerti karena ada contoh-contohnya.
Tidak membosankan, biasanya nulis, mendengerin, menulis, ngedengarin, cepat dimengerti karena contohnya ada, oo ini ternyata begini….oh ternyata begini…

Kendala yang dihadapi oleh guru saat implementasi program
Implementasi pendidikan multikultural di lima SMP memang sangat menarik dan bermanfaat bagi siswa dan guru, namun para guru juga mengahadapi beberapa kendala. Kendala-kendala yang dihadapi pada umumnya adalah keterbatasan waktu yang tersedia, sehingga guru harus dapat menyesuaikan agar dapat membahas film setelah siswa menyaksikannya. Ketersediaan ruangan dan sarana untuk pemutaran film belum memadai, misalnya kegiatan dilakukan di ruang laboratorium IPA.

 Wawancara dengan kepala sekolah
Hanya dua orang kepala sekolah yang berhasil diwawancarai. Pendapat beliau hampir sama dengan Penelitian awal. Mereka begitu yakin program ini bagus. Dan mereka akan mengimplmentasikan di sekolah masing-masing dengan cara guru yang terlibat diminta menularkan ke teman lain di sekolah tersebut. Bila sekolah mereka sudah bisa dijadikan model, mereka akan mensosialisasikan ke sekolah lain dengan wadah MGMP yaitu musyawarah guru mata pelajaran baik di tingkat kecamatan maupun tingkat kodya.
Secara tegas kepala sekolah mengatakan kalau program ini cocok dengan program pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa. Sekarang guru-guru juga sudah harus memasukkan ke dalam RPP.

Revisi
Dari hasil diskusi dan wawancara, ada beberapa hal yang harus diperbaiki di dalam film, buku panduan guru dan buku panduan siswa.

DISKUSI
Dari hasil penelitian terlihat bila suatu sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru dan siswa merasa membutuhkan suatu program, maka hasilnya akan bagus. Sesuai dengan pendapat Dick & Carey (1996)  dan Suparman (1997)  bahwa tahap awal dalam pengembangan  model pembelajaran adalah mengidentifikasi kebutuhan. Pada tahap ini, pemilihan media juga dilakukan agar guru memahami untuk tmenentukan jenis media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Anderson (ahli media pembelajaran) mengatakan hal yang terpenting dilakukan sebelum pengembangan media adalah memilih jenis media yang akan digunakan.
Pada tahap pengembangan bahan ajar semua pihak terlibat. Guru sebagai implementator dan siswa sebagai fasilitator sebaya dilibatkan dalam memilih budaya apa yang akan diangkat untuk menghargai kearifan lokal dan tema apa untuk nilai-nilai multikultural. Keterlibatan guru dan siswa sangat efektif dalam implementasi program, guru merasa memiliki program dan bangga menggunakannya sehingga mereka merekomendasikan agar program ini juga digunakan di sekolah lain. Keterlibatan siswa dalam pengembangan bahan ajar mempunyai nilai tersendiri bagi mereka. Mereka terlibat diskusi dengan teman-teman yang berbeda agama, budaya, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Mereka mulai merasakan kalau kita berbeda dan harus menghargai perbedaan itu.  Kegiatan tahap pertama dan kedua sejalan dengan pandangan Tilaar (2004) yang mengatakan tiga prinsip pokok dalam menyusun program pendidikan multikultural adalah 1) berdasarkan kesetaraan, 2) mewujudkan manusia yang cerdas yang penuh toleransi dan 3) mengantisipasi generasi muda agar tidak hanyut dalam globalisasi.  
Keterlibatan siswa sebagai pemain membuat suasa kelas menjadi bersemangat, semua siswa serius tetapi  santai menonton serta aktif mengomentari film. Dalam prinsip pembelajaran (Dimiyati: 1994) dikatakan guru harus bisa menarik perhatian siswa sehingga siswa termotivasi dan aktif dalam pembelajaran.  Dari hasil postes, 100% siswa mengatakan suka belajar dengan media audio visual, alasan mereka karena manarik, lebih mudah dimengerti, mudah diingat, menyenangkan,  bisa melihat langsung, lebih interaktif, mengasikan, lebih jelas daripada guru menjelaskan, tidak mudah jenuh, tidak membosankan, dan tidak mengantuk. Artinya belajar dengan media audio visual efektif dalam model ini. Hal ini juga ditunjang dengan perubahan pengetahuan dan sikap siswa.

SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, ada kebutuhan para pemangku kepentingan pendidikan di lima SMP untuk menerapkan pendidikan multikultural di sekolahnya dan memandang pendidikan multikultural penting untuk diimplementasikan di sekolah lain melihat kondisi negri kita sering konflik. Kedua, tema multikulturalisme yang diangkat dapat diimplementasikan ke dalam beberapa bidang studi dan sangat disukai dan cepat dipahami oleh siswa. Ketiga, model yang menggunakan media audio visual ini efektif untuk melatih siswa agar menghargai perbedaan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan  budaya lokal.
            Disarankan agar model pendidikan multicultural ini sebaiknya diberikan ke sekolah-sekolah lain karena sesuai dengan rencana pemerintah tentang membangun karakter bangsa. Selain itu perlu kebijakan kepala sekolah untuk mendorong guru-guru agar inovatif sehingga pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan. Untuk itu sosialisasi kepada para kepala sekolah sebagai pengambil keputusan perlu dilakukan. Terakhir, sebaiknya dibuat juga film-film sejenis dari berbagai budaya di Indonesia.

PUSTAKA ACUAN
Agustian, Murniati.  dkk. 2006. Pengembangan Model Pendidikan Multikultural untuk  Anak Usia Sekolah dengan Menggunakan seri Pustaka Anak Nusantara.  PKPM Unika Atma Jaya bekerjasama dengan Public Affarirs Section U.S Embassy Jakarta Indonesia.
Anderson, Ronald H (terj).  1987. Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta: Rajawali.
Carey, Lou & Dick Walter. 1996. The Systematic Design of Instruction. New York: Harper Cllins College Publishers.
Fisher, Simon (terj). 2000. Mengelola Konflik. Jakarta: The British Council, Indonesia.
Gerung, Rocky (ed.). 2006. Hak Asasi Manusia Teori, Hukum, Kasus. Jakarta: FILSAFAT-UI PRESS.
Juwita. Kompas.com, Mei 2008.
Kronologis Tragedi Poso, 10 Juni 2006. http://tragediposo.busythumbs.com

Heinich, Robert,. Michael Molenda, James D. Russell. 1989. Instructional Media: and The New Technologies of Instrction.  New York: Macmillan Publishing Company.
Suseno, Frans Magnis, dalam Paul SosenoTahalele, dkk (ed.). 2000. Indonesia Di Persimpangan Kekuasaan Dominasi Kekerasan atas Dialog Publik. Jakarta: The Go-East Institute dengan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia.
Soetomo, Agus HK (ed.). 2001. Satu Nusa: Pustaka Anak Nusantara.  Jakarta: Visi Anak Bangsa-Indoofood-Dian Rakyat

Suparlan, Parsudi. 2002. Membangun Kembali “Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika”: Menuju Masyarakat Multikultural. Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia ke-3, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 16–19 Juli.

Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. PAU-PPAI-DIKTI-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tilaar, H.A.R. 2004.  Multikulturalisme: Tantangan-tangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional.  Jakarta: Grasindo.
 
Catatan: Makalah ini sudah diterbitkan di “Jurnal Perkotaan”, Juni 2011, Vol.3 No.1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, ISSN 1978-9416