Sabtu, 07 April 2012

Pengembangan Media Audio Visual Untuk Matakuliah Metodologi Penelitian di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya


Oleh: Murniati Agustian[1]


Abstrak

Media audio visual merupakan media yang paling baik digunakan untuk tujuan  pembelajaran yang berkaitan dengan prosedur atau proses. Matakuliah metodologi penelitian merupakan matakuliah  yang banyak berkaitan dengan prosedur dan proses sehingga media yang baik  untuk digunakan adalah media audio visual. Untuk mengembangkan sebuah media AV ada 4 tahap yang dilakukan yaitu analisis kebutuhan, pengembangan, ujicoba/implementasi dan evaluasi. Pada tahap analisis kebutuhan, informannya adalah dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas. Pada tahap pengembangan, melibatkan dosen sebagai penulis naskah, ahli materi dan reviewer. Begitu juga saat shooting, dosen dan mahasiswa dilibatkan sebagai pemain. Pada tahap ujicoba, dosen dan mahasiswa menggunakan di kelas dan tahap evaluasi dosen dan mahasiswa sebagai informan. Hasilnya media AV sangat bermanfaat dalam matakuliah metode penelitian, dosen dan mahasiswa sangat senang dan menyukai media AV.
Kata kunci: media AV, pengembangan, dosen dan mahasiswa, hasil belajar.

 Pendahuluan

Media, bentuk jamak dari medium atau perantara, merupakan sarana komunikasi untuk menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima pesan (Heinich dkk 1989, Suparman 2011, Smaldino 2011). Ada 6 bentuk media yaitu:
1.teks/buku/cetak,
2. audio,
3. visual,
4. model /benda yang sebenarnya
5. orang
6. audio visual

Suparman (2011) mengatakan, media digunakan dalam kegiatan instruksional karena dia mempunyai kemampuan: 1) memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata; 2) menyajikan benda atau peristiwa yang terletak jauh dari mahasiswa; 3) menyajikan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan sangat cepat atau sangat lambat menjadi lebih sistematis; 4) menampung sejumlah besar mahasiswa untuk mempelajari susuatu dalam waktu yang bersamaan; 5) menyajikan benda atau peristiwa berbahaya kepada mahasiswa; 6) meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian mahasiswa; 7) meningkatkan sistematika pengajaran.
Media audio visual ( media AV) merupakan salah satu  media yang dapat digunakan  secara sistematis,  yang dirancang berdasarkan spesifikasi desain instruksional karena  mempunyai beberapa kelebihan dalam pembelajaran. Menurut Heinich, Molenda dan Russell (1989), media AV mempunyai beberapa kelebihan yaitu, bergerak, merupakan suatu proses, dapat diobservasi, dapat didramatisir, baik untuk domain afektif, dan dapat untuk memecahkan masalah.
Smaldino dkk (2011) mengatakan bahwa media AV mempunyai kelebihan seperti: bisa membawa peserta didik ke mana saja dan memperluas minat peserta didik melampaui batas dinding kelas,  benda-benda yang terlalu besar atau yang terlalu kecil dapat dihadirkan di kelas melalui media AV, peristiwa berbahaya untuk diamati bisa dipelajari dengan aman melalui media AV, serta waktu dan biaya kunjungan lapangan dapat dihindari.
Bila ditinjau dari tujuan pembelajaran, media AV dapat  digunakan untuk mencapai tujuan di ranah kognitif, afektif dan psikomotor (Anderson 1987, Smaldino dkk 2011).  Smaldino menambahkan untuk ranah interpersonal.
Untuk tujuan kognitif,  media AV dapat menunjukkan contoh cara bersikap, atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi manusiawi. Reka ulang dari kejadian sejarah,dan  proses pembuatan suatu produk juga dapat ditampilkan melalui media AV.
Untuk tujuan afektif, Anderson menekankan bahwa media AV merupakan media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi sikap dan emosi. Smaldino mengatakan bahwa media AV bisa bermanfaat dalam membentuk sikap personal dan sosial.
Untuk tujuan psikomotor, media AV  merupakan media yang paling tepat untuk menampilkan contoh keterampilan yang menyangkut gerak, misalnya berenang, melompat dan lain sebagainya. Smaldino mengatakan bahwa media AV sangat hebat untuk menampilkan bagaimana seseorang bekerja seperti tukang kayu membuat gentong pada abad ke-18. Pertunjukan kemampuan motorik bisa dengan mudah diamati dengan media  AV dibandingkan dengan melihat dalam kehidupan nyata.
Smaldino dkk (2011) menambahkan untuk tujuan di ranah interpersonal, peserta didik yang beraneka ragam dapat menonton bersama-sama untuk membangun kesamaan persepsi. Peserta didik dapat berdiskusi dan mampu menyelesaikan konflik diantara mereka. Mereka bisa berlatih di depan kamera untuk kemampuan interpersonalnya serta mengamati diri mereka sendiri untuk bahan refleksi sehingga mereka bisa menelaah sikap mana yang sepatutnya mereka pertahankan.
Untuk mengkasilkan media AV yang efektif, ada empat langkah yang sebaiknya dilakukan yaitu analisis kebutuhan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Dalam makalah ini akan dibahas pengembangan media audio visual untuk mata kuliah metodologi penelitian di Unika Atma Jaya, Jakarta. Mengapa yang dipilih sebagai prioritas untuk dikembangkan  mata kuliah metodologi penelitian? Karena mata kuliah tersebut diajarkan pada semua fakultas dan untuk beberapa tujuan sangat abstrak bila dijelaskan dengan ceramah.
Mata kuliah metodologi penelitian mengharapkan mahasiswa mampu membuat perencanaan penelitian dalam bentuk proposal penelitian. Kompetensi yang diharapkan adalah mahasiswa dapat menjelaskan hakekat dan jenis-jenis penelitian; mahasiswa dapat mencari, menemukan, dan mengevaluasi kebenaran dan kedalaman informasi, serta memanfaatkannya dengan etis (sesuai dengan kaidah APA); mahasiswa dapat merumuskan masalah yang akan diteliti serta alasannya, dan menyusunnya dalam proposal;  mahasiswa dapat merumuskan dan menyusun tujuan dan manfaat penelitian yang relevan dengan perumusan masalahnya.
Selain itu diharapkan juga mahasiswa dapat mengembangkan landasan teori dan menggambarkan kerangka pemikiran yang sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian; mahasiswa dapat mengembangkan metode penelitian yang sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian serta kerangka pemikiran.[2]

Pengembangan Media AudioVisual
Ada empat tahap kegiatan yang dilakukan, dalam setiap tahap ada langkah-langkah yang sebaiknya diikuti. Bila dilihat dari sisi pengelolaan, kegiatan pengembangan harus dikoordinir oleh satu orang dan setiap tahap kegiatan mempunyai penanggungjawab.  Pada kegiatan ini,  tim pelaksananya adalah:
Tahap I: Analisis Kebutuhan
Pada tahap ini, koordinator peneliti awal yang bertanggung bertanggungjawab.
Dalam suatu pertemuan tidak resmi antara peneliti dan dosen pengampu matakuliah metodologi penelitian, banyak dosen yang mengatakan bahwa mengajar mata kuliah ini sulit karena abstrak. Banyak mahasiswa yang sulit membuat proposal dan tidak siap melakukan penelitian untuk skripsi mereka. Seharusnya mahasiswa bisa membuat proposal untuk skripsi mereka.
Pada awal tahun 2009, dibentuklah tim peneliti untuk melakukan penelitian awal dengan tujuan menggali permasalahan dan mengidentifikasi kebutuhan para dosen yang mengampu mata kuliah ini. Metode pengumpulan data yang gunakan adalah  focus group discusian (FGD) dengan delapan orang dosen yang berasal dari beberapa fakultas yang ada di Unika Atma Jaya.
Dari hasil FGD,  terlihat kebutuhan  para dosen untuk menggunakan  media AV pada topik-topik yang dirasa sulit untuk diberikan. Topik yang dipandang sulit oleh para dosen adalah: perumusan masalah, wawancara mendalam, FGD, observasi, penentuan metode statistika dalam penelitian, analisis data kualitatif, kerangka teoritik, proses pengumpulan data kuantitatif mulai dari konsep sampai pemilihan responden serta teknik eksperiment untuk fakultas psikologi.   
Pada bulan Mei tahun 2009, berdasarkan penelitian awal, Studio Teknologi Pendidikan, salah satu unit di bawah koordinasi Perpustakaan Unika Atma Jaya Jakarta  membuat perencanaan untuk membuat media AV yang dibutuhkan. Dibentuklah tim produksi dengan jadwal mulai produksi, ujicoba selama satu semester dan evaluasi.
Pada tahun 2009 diproduksi tiga topik  yaitu perumusan masalah, FGD dan wawancara mendalam yang menjadi prioritas untuk dikembangkan. Tahun 2010 dua topik yang dikembangkan yaitu observasi dan penentuan metode statistik dalam penelitian. Tahun 2011, dua topik dikembangkan yaitu analisis data kualitatif dan kerangka teoritik.
Menurut beberapa teori tentang pengembangan instruksional baik untuk sistem intruksional maupun untuk produk instruksional dalam bentuk modul dan media AV, tahap pertama ini mutlak dilakukan.
Tahap II: Mendisain dan mengembangkan media AV beserta panduannya.
Menurut Saroengallo (2008), keberhasilan pekerjaan produksi media AV tergantung dari kerjasama penulis skenario, sutradara dan produser.
Tahap dua ini terdiri dari beberapa langkah yaitu pra produksi atau persiapan, produksi dan editing.
1) pra produksi yang terdiri dari menulis skenario dan mempersiapkan shooting.  Skenario ditulis oleh staf studio dan salah satu dosen yang mengampu mata kuliah ini. Untuk beberapa judul  penulis naskah hanya dilakukan oleh staf studio, bila ini terjadi ahli materi dilibatkan dan diambil dari salah satu dosen pengampu matakuliah ini.
Tim penulis memulai dengan mempelajari tujuan dan materi. Dalam proses penulisan skenario ini, dilakukan beberapa kali diskusi dan melibatkan dosen lain sebagai reviewer atau ahli materi. Skenario yang ditulis dan diperbaiki didiskusikan dengan tim produksi yang telah ditentukan sehingga  skenario siap untuk diproduksi. Tim produksi terdiri dari sutradara dan asisten, penata kamera dan asisten, penata artistik dan asisten,  penata lampu, penata audio, editor, penata grafis, dan pembantu umum.
Kekuatan dari skenario yang sudah dibuat adalah selain fokus pada tujuan dan  topik yang telah ditentukan, permasalahan yang diangkat adalah permasalahan mahasiswa dan latar kampus. Pengalaman dosen dan mahasiswa sangat mempengaruhi gaya penulisan skenario.
2) produksi yang terdiri dari, memilih pemain, menentukan lokasi,  membuat jadwal dan rapat tim produksi dengan pemain.
Berdasarkan skenario, tim produksi memutuskan bahwa semua pemain diambil dan dipilih dari mahasiswa dan dosen di Atma Jaya. Untuk mahasiswa ada langkah yang harus dilalui yaitu casting.  Hasilnya terpilih pemain utama dan pemain pendukung.
Hunting lokasi dilakukan untuk melihat layak atau tidaknya lokasi yang dipilih. Diperkirakan juga dari sisi artistik dan ketersediaan peralatan terutama lampu. Berdasarkan hunting lokasi, manager produksi membuat jadwal yang efisien.
Pengambilan gambar dilakukan berdasarkan jadwal yang sudah disepakati. Adakalanya terjadi perubahan dari yang sudah ditetapkan di skenario tetapi tidak merubah substansi misalnya bahasa yang lebih mudah dipahami, lokasi shooting.
Di samping itu, hal yang tidak boleh dianggap enteng adalah konsumsi.  Semua kebutuhan konsumsi pemain dan tim produksi sudah disiapkan sehingga pengambilan gambar dapat berjalan dengan sedikit hambatan.
Shooting dapat berjalan baik dan sesuai dengan waktu yang disediakan. Hal ini tercapai karena  kekuatan lain dari skenario yaitu, mengangkat permasalahan mahasiswa dan melibatkan mahasiswa dan dosen sebagai pemain sehingga pemain cepat memahami dan beradaptasi dengan skenario. 
3) editing. Pada langkah ini, yang dilakukan adalah menyusun rangkaian AV dari master shoot sesuai dengan naskah dan perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Langkah berikutnya adalah menghaluskan  menggabungkan musik, tulisan, grafis penunjang.
Preview pertama dilakukan dengan mengundang penulis naskah, ahli materi dan dosen pengampu. Berdasarkan preview pertama, revisi dilakukan. Prewiev kedua dilakukan dengan mengundang orang yang sama, revisi terakhir dilakukan dan media AV sudah siap diujicobakan di kelas. 
Buku panduan:
Bersamaan  dengan kegiatan produksi, penyususnan buku panduan dikerjakan oleh dosen pengampu matakuliah, dan desainer pembelajaran. Buku panduan ini berisi: sekilas tentang penelitian, sekilas tentang topik terkait misalnya observasi atau wawancara mendalam, dan prosedur pembelajaran dengan media AV.
Buku ini berfungsi untuk memandu dosen  mengunakan media AV, menurut Anderson, bagaimanapun bagusnya media yang dibuat bila tidak digunakan dengan baik tidak akan berhasil.
Tahap III: uji coba dan Implementasi
Media AV yang sudah dipindahkan ke dalam format DVD dicobakan di kelas oleh para dosen yang mengampu mata kuliah metodologi penelitian di beberapa fakultas seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Ada berbagai cara yang dilakukan oleh dosen dalam menggunakan media AV yaitu: Pertama, dosen memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajarannya, setelah itu mengajak mahasiswa untuk menonton dan terakhir diskusi .
Kedua, dosen menjelas sedikit topik yang akan dibahas, menonton sambil berdiskusi sesuai dengan tahapan dan pertanyaan dalam DVD. Saat diskusi DVD player di’pause’ dulu. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam  film juga sangat membantu. Pada FGD ada pendapat yang sama dari mahasiswa, diskusi per segmen dalam DVD sesuai dengan pertanyaan akan membantu mahasiswa untuk lebih mudah mengambil kesimpulan. Adanya pertanyaan di dalam media AV dapat membedakan bahwa  media yang dibuat adalah media instruksional bukan media hiburan.
Ketiga, ada dosen yang betul-betul menggunakan media AV sebagai bahan diskusi. DVD langsung diputar dan diskusikan bersama serta membandingkan dengan buku-buku yang terkait topik kuliah. Misalnya tentang orisinil, apakah orisinil itu? Apakah kita bisa melakukan replikasi?
Pada setiap akhir kuliah, diberikan kuesioner dengan dua pertanyaan terbuka yaitu: pembelajaran apa yang anda peroleh setelah menonton DVD ini? Apakah anda menyukai cara belajar dengan media AV? Mengapa?  Staf studio juga melakukan observasi Ujicoba ini dilakukan selama satu semester, melibatkan 600 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian.

Tahap IV: Evaluasi.
Pada akhir semester, dilakukan evaluasi tentang media AV yang sudah digunakan selama satu semester. Ada 80 mahasiswa yang menjadi peserta FGD, satu kelompok FGD terdiri dari 10 orang mahasiswa, dan  8 orang dosen dari berbagai fakultas yang diwawancarai secara mendalam.


Hasil:
Semua dosen merasakan ada manfaat ketika menggunakan semua media AV untuk mata kuliah metodologi penelitian . Manfaat yang paling dirasakan oleh semua dosen adalah  terbantu dan lebih mudah menjelaskan materi.
Pada  DVD Perumusan Masalah sudah terpapar tentang proses atau tahap perumusan masalah sehingga dosen tidak perlu lagi menjelaskan dengan susah payah. Topik statistik ternyata memudahkan juga, karena yang dipelajari konsepnya bukan cara menghitungnya. Pelaksanaan FGD terlihat jelas, sehingga mahasiswa mengerti cara melakukannya. Untuk topik wawancara mendalam, mahasiswa dapat melihat contoh mana yang tidak boleh dilakukan dalam wawancara mana yang seharusnya dilakukan.
Hampir semua dosen mengatakan bahwa media AV  ini efektif karena mahasiswa cepat memahami apa yang diajarkan, ini diketahui karena setelah menonton film, dosen menanyakan kepada mahasiswa tentang apa yang mereka pelajari. Pernyataan ini sama dengan hasil kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa.
Dilihat dari sisi mahasiswa, sebagian besar mahasiswa menyenangi belajar  dengan AV dan merasa lebih cepat memahami materi kuliah yang ditayangkan dalam video daripada penjelasan oleh dosen di depan kelas. Mahasiswa merasa bosan dan sulit memahami dosen-dosen yang dinilai kurang bagus dalam mengajar.
Menurut informan, kelebihan media AV yang telah dibuat dan digunakan yaitu dirancang berdasarkan permasalahan dan kebutuhan dosen dalam mengajarkan metodologi penelitian dan masalah mahasiswa dalam belajar; media AV  dibuat dengan permasalahan mahasiswa sehingga menarik bagi mahasiswa.
Dari sisi teknis, media AV yang dibuat dinilai sudah lebih baik dibandingkan dengan produksi beberapa tahun yang lalu walaupun ada beberapa kekurangan.
Penyajian ini dinilai sangat menarik karena ada humornya, ada romantisnya, ada kesulitan dalam belajar. Komentar mahasiswa, media AV ini bukan sesuatu yang jauh dari mereka, meskipun sangat  akademik materinya, tapi dengan sentuhan seperti itu lebih masuk ke dunia mereka. Oleh karena itu  mahasiswa yang menonton seolah-olah melihat realita persoalan mereka sendiri dan ini menjadi kekuatan untuk seorang mahasiswa menjadi tertarik untuk melakukan penelitian.
Sisi lain kelebihan dari media AV ini adalah memperlihatkan cara belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Cara belajar yang digambarkan adalah menggunakan perpustakaan, belajar kelompok, menghubungi dosen sehingga ini menarik buat mahasiswa. Cara belajar seperti ini memotivasi mahasiswa untuk melakukannya.
Dari hasil observasi terlihat bahwa mahasiswa sangat antusias menyaksikan, dan mereka rileks dalam belajar. Perilaku mahasiswa yang menjadi pemain membuat mereka tertawa, tersenyum seolah-olah melihat diri sendiri.




KEPUSTAKAAN
1.      Anderson, Ronald .1987, Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, terjemahan Yusufhadi Miarso, et al., Rajawali. Jakarta.

2.      Dyiden, Gordon dan Jeannette Vos. 2000, Revolusi Cara Belajar Bagian II: Sekolah Masa Depan,  Kaifa, Bandung.

3.      Robert Heinich et al. 1999, Instructional Media and Technologies for Learning, Prentice-Hall, Inc,  New Jersey.

4.      Sarunggallo, Tino. 2008, Dongeng Sebuah Produksi Film. Intisari Mediatama. Jakarta.

5.     Smaldino, Sharon E., Lowther, Deborah L., Russell, James D. 2011. Instructional Technology & Media For Learning, terjemahan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

6.      Suparman, M. Atwi (2011). Desain Intruksional. Universitas terbuka, Jakarta

 *catatan: makalah ini sudah dipublikasikan pada Proceedings Seminar Nasional Teknologi Pendidikan untuk Peningkatan Kinerja, Fakultas Teknik UNJ, 14 Januari 2012.


[1] Mahasiswa Program Doktor Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dosen di FKIP Unika Atma Jaya, dan staf di Studio Teknologi Pendidikan-Perpustakaan Unika Atma Jaya.
Email: murniati.agustian@atmajaya.ac.id & murni_agustian@yahoo.com

[2] SAP tim dosen matakuliah Metodologi Penelitian Hukum