Peter Senge dalam bukunya The fifth
discipline the art and practice of the learning organization, bagian
II, bab 4 (1994:42-52), memaparkan ada sebelas hukum dalam berpikir sistem,
menurut penulis masing-masing hukum
penting untuk dipahami dan diterapkan dalam berorganisasi. Sebelas hukum Disiplin Kelima tersebut: adalah
1. Masalah hari ini datang dari "solusi" hari kemarin
Artinya, jangan cepat puas dengan hasil
kemarin apalagi bila solusi yang diambil menimbulkan masalah baru di bagian
lain. Solusi yang hanya memindahkan
masalah dari satu sub sistem yang lain, ke sub system yang lain, sering tidak terdeteksi. Contoh suatu PH sedang melakukan pengambilan gambar
untuk suatu film, tiba-tiba system audio dari kamera SLR Nikon tidak dapat merekam,
yang terekam hanya gambar. Tanpa diskusi dengan bagian teknisi, petana suara
memutuskan menggunakan kamera tipe PD 170, tetapi khusus untuk audio. Solusi saat itu adalah shooting menggunakan 2
kamera dengan alasan kamera SLR mutu gambarnya bagus dan kamera PD 170 untuk
merekam suara. Ketika itu pemecahan masalah tercapai karena pengambilan gambar
dapat dilakukan sesuai dengan jadwal
yang sudah direncanakan. Setelah
shooting, proses selanjutnya adalah editing, masalah hari ini datang, staf
editing mengalami kesulitan untuk menggabungkan gambar dan audio dari 2 jenis kamera yang berbeda. Lalu kepala proyek mengajak rapat untuk
evaluasi proses shooting, penyebab
masalah akhirnya diketahui yaitu baterai
audio kamera lemah, penata suara tidak memeriksa perlengkapan sebelum shooting.
Waktu
menyelesaikan masalah ketika kasus terjadi, penata suara merasa dirinya paling
tahu, dia mengabaikan keahlian orang lain seperti teknisi. Penata suara tidak
berpikir system, yang dia pikirkan adalah menyelesaikan pekerjaan hari ini dan
tidak melihat resiko terhadap bagian lain
2. Semakin
keras Anda menekan, semakin keras sistem menekan kembali.
Menurut Senge,
semakin besar usaha organisasi untuk mencoba
meningkatkan sesuatu, semakin besar juga usaha yang
dibutuhkan. Lebih lanjut dikatakan berpikir sistem untuk fenomena
ini dikenal dengan istilah umpan balik kompensasi,
tanpa disadari ini justru merupakan kerugian. Senge memberikan contoh bahwa
banyak organisasi melakukan berbagai cara ketika kehilangan daya tariknya,
seperti: iklan besar-besaran yang membutuhkan biaya sangat besar dan menurunkan
harga, namun tetap kehilangan pelanggan. Dalam
suatu organisasi, bekerja di bawah tekanan, atau intervensi akan sangat
melelahkan. Contoh, bila staf selalu
ditekan agar datang tepat waktu, tidak boleh bolos kerja tanpa melihat
penyebabnya, akan membuat staf stress , sehingga disiplin tercapai tetapi staf
tidak ada ditempat kerja, atau tidak termotivasi untuk menjadi lebih baik
targetnya hanya tepat waktu, artinya dari sisi tenaga kerja, organisasi
kehilangan jam kerja efektif.
3. Perilaku berkembang dengan lebih baik sebelum dia berkembang menjadi buruk.
Dalam berpikir sistem, Sange mengingatkan bahwa intervensi untuk solusi, hanya terlihat lebih baik dalam jangka waktu pendek, namun tidak mengatasi masalah mendasar untuk kedepan. Umpan balik kompensasi datang kemudian, persoalan-persoalan jangka panjang dan kompeks justru muncul dikemudian hari. Diperlukan proses belajar yang terus menerus dan memperhatikan proses pengambilan keputusan yang baik. Perlu mental model dan membangun visi bersama agar perilaku terus berkembang menjadi lebih baik.
4. Jalan keluar yang mudah biasanya mengarah ke jalan kembali.
Menurut Senge kita semua merasa nyaman bila menerapkan pemecahan masalah yang sudah kita kenali masalahnya. Bila berpikir tidak menerapkan berpikir sistem, ada kecenderungan menyelesaikan masalah dengan menemukan solusi yang mudah atau menerapkan kembali solusi yang seringkali dilakukan, ini justru membuat masalah mendasar masih tetap berlangsung atau semakin parah. Seperti contoh kasus pada hukum pertama, bila setiap ada masalah dengan audio, staf tersebut akan mengambil keputusan seperti itu, akar masalah mengapa audio tidak keluar pada kamera SLR akan selalu menjadi masalah.
5. 5. Penyembuhan bisa lebih parah daripada penyakit.
Menurut
Senge, kadang-kadang solusi yang mudah
dikenali bukan hanya tidak efektif,
kadangkala menjadi kecanduan dan
berbahaya. Contoh yang sederhana diberikan Senge adalah tentang alkaholik ,
awalnya minum sebagai relasi social karena merasa self esteem rendah, dan
stress karena kerja, tetapi akibatnya dia malah kecandua sehingga tambah stress
dan harga diri tambah rendah dibandingkan sebelumnya. Untuk jangka panjang,
konsekuensi yang paling membahayakan dari penerapan solusi non-sistemik adalah
peningkatan kebutuhan akan solusi dan
lebih besar lagi.
6. 6. Percepatan merupakan
perlambatan.
Senge menulis kembali cerita kuno tentang kura-kura
yang lambat tetapi menang dalam perlombaan. Dia menekankan segala sesuatu
yang berkembang terlalu cepat, diluar kapasitas,
mengindikasikan adanya atau akan ada
ketidakseimbangan. Perkembangan
yang begitu cepat mungkin saja merupakan
dampak dari solusi jangka pendek yang berdampak pada kebiasaan perilaku membaik sesaat, Senge
mengatakan ini merupakan kasus klasik
dari “pengetahuan yang minim, akan menjadi sesuatu yang membahayakan”.
7. Sebab dan akibat tidak begitu erat kaitannya dengan waktu dan ruang.
Sebab adalah interaksi dari sistem
yang mendasari dan yang paling
bertanggungjawab terjadinya gejala. Akibat adalah gejala yang jelas yang mengindikasikan bahwa terdapat masalah. Mengapa terjadi masalah? Senge mengatakan
bahwa kebanyakan kita berasumsi bahwa sebab dan akibat sangat dekat dengan
waktu dan ruang. Dia menekankan penting untuk mengenali interaksi
sistem yang mendasari terjadinya gejala. Semua masalah yang muncul
sebenarnya diakibatkan oleh ketidaksesuaian antara realitas dalam sistem
yang kompleks dan cara berpikir mengenai realitas itu. Hal yang perlu
dikoreksi pertama kali adalah dugaan bahwa sebab dan akibat
berhubungan dekat dengan waktu dan ruang.
8.
8. Perubahan
kecil dapat menghasilkan akibat yang lebih besar- tetapi area paling
besar
pengaruhnya seringkali kurang jelas.
pengaruhnya seringkali kurang jelas.
Ada yang berpendapat
bahwa berpikir sistem “ilmu baru yang suram” karena mengajarkan bahwa solusi
yang paling jelas, tidak bekerja pada tingkat terbaik, dan masalah menjadi
tambah jelek di jangka panjang. Bagi pemikir system, menunjukkan bahwa tindakan
yang kecil dan sangat fokus kadang-kadang bisa mengahasilkan peningkatan yang
signifikan dan tetap, pemikir sistem mengakat prinsip ini sebagai “suatu
pengungkit”. Menurut Sange, terdapat aturan yang tidak mudah untuk
mengetahui perubahan pengungkit yang tinggi, tetapi terdapat cara berpikir yang
membuat itu mungkin.
9. Anda dapat memiliki kue dan memakannya tapi tidak sekaligus.
Kadang-kadang, dilema yang
sangat rumit dilihat dari sudut pandang sistem, bukanlah dilema dalam arti luas. Dilema tersebut merupakan
wujud dari “tembakan” dibandingkan “proses” berpikir. Senge memberikan
contoh tentang salah satu pabrik di Amerika yang berpikir bahwa mereka telah
memilih antara biaya rendah dan mutu tinggi. Contoh yang dikemukakan oleh
Senge menjelaskan pentingnya memikirkan keduanya, yaitu “tembakan”
dan “proses” untuk memperoleh peningkatan secara bertahap dari
waktu-kewaktu .
10. Membelah gajah menjadi dua tidak menghasilkan dua gajah kecil.
System kehidupan
memiliki integritas, hal yang sama juga berlaku bagi organisasi. Kisah tiga
orang buta dalam buku ini tidak mencerminkan berpikir sintem karena satu orang
buta yang memegang telinga gajah lalu mengatakan gajah itu lebar seperti
karpet. Ketika satu orang lagi memegang belalai gajah lalu dia mengatakan gajah
itu seperti pipa dan berlubang. Orang ketiga memegang kaki depan gajah dan
mengatakan ini kokoh dan kuat seperti tiang. Artinya ketiga orang buta ini
tidak mengatahui gajah yang sesungguhnya. Bila suatu organisasi hanya melihat
permasalahan di unitnya saja maka dia tidak melihat lembaga atau departemen
secara keseluruhan, bagaimana mungkin dia akan berinteraksi?, Inti dari hukum kesepuluh
ini adalah pentingnya memahami fungsi interaksi antar unit dalam suatu organisasi
untuk solusi suatu masalah. Menemukan solusi dengan cara sambil lalu
hanya akan menimbulkan kekacauan, karena tidak akan menghasilkan
perubahan yang diinginkan.
11. Tidak menyalahkan
Saya
sependapat dengan Senge bahwa berpikir sistem, tidak boleh menyalahkan
pihak luar untuk masalah yang sedang dihadapi. Komponen-komponen yang ada dalam
system tersebut dan penyebab
masalah yang ada dalam organisasi
merupakan bagian dari sistem.
Terakhir Senge mengatakan obatnya terletak pada hubungan Anda
dengan “musuh” Anda. Untuk pernyataan Senge yang
terakhir ini, perlu ditambahkan selain hubungan dengan musuh atau pesaing,
organisasi perlu menciptakan manusia-manusia dengan personal mastery karena orang seperti ini akan dapat menyelesaikan
masalah bukan menjadi bagian dari masalah.
Sumber
Sumber
Senge,
Peter M. (1994). The Fifth Discipline:
The Art and Practice of The Learning Organization. New York: Doubleday
Tidak ada komentar:
Posting Komentar